Kambing Bakar "ALIF" Putra Kairo | Sajian Kambing Bakar dengan Resep Leluhur


Daging kambing adalah satu dari sekian banyak bahan utama yang digemari masyarakat hampir di seluruh dunia. Walaupun ada beberapa persoalan di dalam mengolah daging kambing, namun bagi yang sudah mahir dalam pengolahannya, maka daging kambing akan menjadi hidangan istimewa, terutama bagi para penggemar santapan olahan daging kambing.

Salah satu yang istimewa adalah kambing bakar ala Timur Tengah. Di kota Cirebon, olahan kambing bakar yang istimewa masih sangat sedikit, dapat dihitung dengan jari penjualnya. Salah satunya adalah di warung makan Kambing Bakar "ALIF" Putra Kairo di jalan Moh. Toha nomor 7 kota Cirebon.

Kambing Bakar "ALIF" Putra Kairo adalah bisnis keluarga yang sudah turun temurun menggunakan resep rahasia keluarga. Dan merupakan pencetus hidangan olahan kambing dan kuliner Timur Tengah lainnya seperti kebab. Dan walaupun hadir dengan tempat yang biasa-biasa saja, Kambing Bakar "ALIF" Putra Kairo sudah memiliki pelanggan setia yang selalu datang untuk menikmati sajian kambing bakar khasnya.


Di warung makan Kambing Bakar "ALIF" Putra Kairo ini, selain kambing bakar, juga menyediakan sajian lainnya seperti nasi kebuli, sate kambing muda, gulai kambing, nasi goreng kambing, ayam bakar kari, kari ayam ala Madinah, dan ada juga jajanan khas Timur Tengah seperti roti maryam, kebab, dan sambosa. 

Kambing Bakar "ALIF" Putra Kairo yang dimiliki warga Cirebon keturunan Yaman ini memang mengolah daging kambing dengan serius demi menjaga resep leluhurnya dan kualitas menu sajiannya. Itu sebabnya, pelanggan setianya tetap percaya dan terus bertambah. Kambing bakar ala warung makan Kambing Bakar "ALIF" Putra Kairo ini dijual dengan harga Rp 40.000,-.


Kambing bakar ala warung makan "ALIF" Putra Kairo

Saat Cirebon Kuliner diundang datang berkunjung, Cirebon Kuliner mencoba menu andalan ini. Konon katanya, kambing bakar adalah kuliner yang paling digemari di Timur Tengah setelah Nasi Kebuli. Setelah mencoba, memang istimewa. Kambing bakarnya tidak berbau prengus, dagingnya juga amoh atau lembut, tidak nekk, bumbunya istimewa, apalagi dipadukan dengan nasi kebuli, maksimal sekali.

Bagi pelanggan yang sudah tahu kualitas dari hidangan kambing bakar ala Kambing Bakar "ALIF" Putra Kairo ini tentu sudah tidak ragu lagi. Bagi pembaca Cirebon Kuliner yang gemar menyantap sajian kuliner dari daging kambing, wajib coba kambing bakar ala Kambing Bakar "ALIF" Putra Kairo jalan Moh. Toha nomor 7 kota Cirebon. Buka dari pagi hingga malam hari jam 21:00.



Nasi Goreng Kebab "DINAR" | Inovasi Baru dari Resep Turun Menurun


Dunia kuliner itu seperti ilmu sejarah yang setiap waktu selalu ada sejarah dan pengetahuan baru yang terus berkembang. Menu makanan dapat berkembang dengan cara mengkombinasikan satu kuliner dengan kuliner lainnya. Kota Cirebon kini semakin lengkap dengan semakin banyaknya para pebisnis kuliner yang hadir menawarkan berbagai inovasi.

Salah satunya adalah hadirnya Nasi Goreng Kebab "DINAR" yang mangkal di jalan Moh. Toha kota Cirebon. Nasi Goreng Kebab "DINAR" hadir menawarkan menu nasi goreng yang tiada lain adalah khas dari Indonesia, dengan dicombine daging kebab ala Timur Tengah. Hasilnya, sajian khas nasi goreng dengan cita rasa rempah Timur Tengah.

Nasi Goreng Kebab "DINAR" hadir menawarkan nasi goreng dengan daging sapi kebab yang biasa digunakan untuk membuat isian kebab. Selain itu, Nasi Goreng Kebab "DINAR" juga memberi pilihan daging kambing sebagai isian nasi gorengnya, juga daging ayam bisa dipilih bagi konsumen yang kurang menyukai daging sapi kebab maupun daging kambing.



Kesemua pilihannya ini diolah dengan bumbu rahasia turun temurun yang menjadi ciri khasnya. Satu porsi nasi goreng dengan daging sapi kebab ala Nasi Goreng Kebab "DINAR" ini dijual dengan harga Rp 20.000 dan Rp 25.000 untuk nasi goreng kambing. Sementara nasi goreng biasa dijual dengan harga Rp 12.000 saja.

Soal rasa, saat nasi goreng kebab ini memang oke. Jelas berbeda dengan nasi goreng kebanyakan karena cita rasanya yang khas berasal dari bumbu rahasia. Nasi Goreng Kebab "DINAR" juga menawarkan sistem kerja sama franchise atau waralaba bagi para pemilik modal yang tertarik untuk bekerjasama.

Bagi yang berminat, dapat menghubungi nomor 0813 1336 3114. Nasi Goreng Kebab "DINAR" ini masih satu pemilik dengan Kebab Turki jalan Kartini kota Cirebon yang juga pernah diulas Cirebon Kuliner. Baik kebab Turki maupun nasi goreng kebab ini, masih menjaga resep tradisi sehingga sajian yang ditawarkan pun tidak biasa dan memiliki karakter.

Bagi pembaca Cirebon Kuliner yang gemar menyantap nasi goreng, harus coba nasi goreng yang satu ini. Apalagi jika anda menyukai kuliner kebab ala Timur Tengah. Sajian nasi goreng ala Nasi Goreng Kebab "DINAR" ini layak dicoba.


Nasi goreng dengan daging sapi kebab, Rp 20.000 saja.


Mie Yamien Khas Cirebon | Dulu Populer Dengan Sebutan Mie "Ncek"


Untuk ke sekian kalinya, Cirebon Kuliner menulis ulasan mengenai mie yamien khas Cirebon. Kali ini, Cirebon Kuliner menulis sedikit lebih spesifik lagi mengenai mie yamien khas Cirebon. Setelah menelusuri ke beberapa sumber, seperti pada artikel sebelumnya yaitu, Mie Yamien Warkad Pak Edom bahwa asal muasalnya kuliner mie di Cirebon - dan kemungkinan besar di seluruh Indonesia bahkan dunia - adalah dari negeri Cina.

Ya, singkat cerita, warga keturunan Cina yang tinggal di kota Cirebon mencari nafkah dengan macam-macam cara, salah satu darinya adalah berjualan makanan khas negeri mereka, yaitu mie. Mie yang mereka jajakan adalah mie kering berbumbu dengan topping atau taburan daging babi (pada saat itu), lengkap dengan sayuiran, dilengkapi lagi dengan kuah terpisah berisi siomay, pangsit basah, baso, ada pangsit kering juga, dan ada baso tahu juga.

Lokasi awal penjualan Mie Yamien pada saat itu adalah di kawasan jalan Pandesan kota Cirebon. Pada waktu itu, dikarenakan yang menjual adalah warga keturunan Cina, maka mie yamien yang sedari dulu dijual dengan gerobak kecil nan khas ini disebut juga dengan "Mie Ncek", sesuai dengan sebuan panggilan bagi para warga keturunan Cina.




Seiring waktu, rupanya kuliner mie yamien atau mie Ncek ini semakin digemari. Beberapa perubahan pun mengikuti, salah satunya tentunya adalah penggunaan daging babi yang diganti dengan daging ayam, karena mayoritas warga muslim Cirebon juga mulai gemar mengkonsumsi mie yamien ini. Pedagang mie Ncek pun semakin banyak.

Lambat laun, penjual mie yamien khas Cirebon ini bukan hanya dari kalangan warga keturunan Cina, namun warga asli pribumi Cirebon pun mulai banyak yang mahir membuat mie yamien khas Cirebon ini. Dan wilayah "endemik"-nya adalah di kawasan jalan Pandesan kota Cirebon. Tidak heran jika sampai sekarang, kawasan jalan Pandesan - jalan Pekalangan kota Cirebon ini banyak sekali penjual mie yamien khas Cirebon.

Nah, saat artikel ini dibuat, yaitu 19 November 2016, penjual mie yamien khas Cirebon yang masih menggunakan gerobak kecil nan khas masih ada beberapa. Namun, yang tertua dan masih bertahan hingga artikel ini dibuat adalah mie yamien yang biasa mangkal di kawasan jalan Bahagia kota Cirebon. Pedagangnya biasa dipanggil dengan sebutan Mang Doyok.




Saat berbincang-bincang dengan Mang Doyok, konon Mang Doyok sudah berjualan mie yamien khas Cirebon ini dari tahun 1972, saat usianya sekitar 19 tahun dengan status masih sebagai karyawan dari Bos mie Ncek. Dan di tahun 1972 saja, mie yamien khas Cirebon atau mie Ncek ini sudah sangat populer di kota Cirebon. Jadi masih belum jelas pasti kapan persisnya mie yamien khas Cirebon atau mie Ncek mulai muncul di kota Cirebon. Dan saat artikel ini dibuat, harga mie yamien khas Cirebon per mangkoknya adalah Rp 12.000, saja.

Menurut Mang Doyok juga, disebut mie yamien karena mie yang disajikan kering, dengan kuah terpisah. Informasi ini didapatkan Mang Doyok dari bertanya ke Bos-nya yang memang warga Cirebon keturunan Cina. Sedangkan mie yang basah atau dengan kuah menyatu langsung disebut dengan mie Teng. Namun nampaknya mie Teng kurang populer sampai sekarang.

Bagi pembaca Cirebon Kuliner yang gemar menyantap mie yamien khas Cirebon, tentu tahu beberapa titik di kota Cirebon yang biasa dijadikan tempat mangkal mie yamien khas Cirebon. Tujuan artikel ini dibuat adalah tentunya sebagai informasi bagi masyarkat Cirebon dan Indonesia perihal mie yamien khas Cirebon.

Oiya, ada dua versi mie yamien di kota Cirebon saat ini, yaitu mie yamien khas Cirebon, dan mie yamien khas Warkad atau "Warga Kadupandak" dari desa Ciamis, yang artikelnya pernah ditulis juga di sini.

Tujuan lain tidak lain tentunya adalah berharap agar mie yamien khas Cirebon tetap dapat lestari bertahan agar dapat terus dinikmati oleh generasi selanjutnya. Terlebih, akan lebih indah lagi apabila mie yamien khas Cirebon ini masih terus bertahan dengan penampilan gerobak kecilnya yang khas. Semoga bermanfaat.

Cirebon Kuliner bersama Mang Doyok, penjual mie yamien khas Cirebon jalan Bahagia kota Cirebon. Sudah berjualan mie yamien khas Cirebon dari tahun 1972, dan yang tertua yang masih bertahan.

Beberapa penjual mie yamien khas Cirebon lainnya:



Mie Yamien Warkad "Pak Edom" | Salah Satu Bagian Sejarah Mie Yamien Kota Cirebon


Apa sih bedanya mie yamien dan mie ayam? Pertanyaan itu yang masih sering Cirebon Kuliner dengar dari masyarakat kota Cirebon. Untuk itu, Cirebon Kuliner mencoba menelusuri sedikit apa dan bagaimana sejarah mie yamien di kota Cirebon. Supaya kita semua mendapatkan informasi yang lebih menyeluruh.

Dari berapa kunjungan ke warung-warung mie yamien di kota Cirebon, akhirnya Cirebon Kuliner berkesempatan menggali sedikit mengenai sejarah mie yamien di kota Cirebon. Terimakasih sebelumnya Cirebon Kuliner sampaikan untuk Pak Edom, selaku pemilik dari mie yamien Warkad "Pak Edom" yang sudah mau berbagi sedikit banyak cerita sejarah mie yamien di kota Cirebon.

"Warkad" adalah warga desa Kadupandak, kota Ciamis

"Prancis" adalah Peranakan Ciamis

Secara mendasar, kuliner mie ini berasal dari negeri Cina yang membawa kuliner mie ke Indonesia, termasuk ke beberapa negara lainnya. Di beberapa kota di Indonesia, hidangan mie berkembang menjadi berbagai varian.

Menurut Pak Edom, pada tahun 1967, ada 4 orang mahasiswa asal kota Ciamis yang berkuliah di kota Bandung. Dan untuk menutupi kebutuhan hidupnya sambil berkuliah, keempat mahasiswa ini bekerja pada pedangan mie keturunan Cina. Dari bekerja berjualan mie ala Cina inilah keempat mahasiswa asal kota Ciamis ini mendapatkan ilmu membuat hidangan kuliner mie.

Pada awalnya, mie khas Cina ini memakai daging babi. Namun seiring berkembangnya waktu. tentunya dengan pertimbangan kehalalan juga, mie ini tidak lagi menggunakan unsur babi di dalamnya. Kemudian singkat cerita, populerlah hidangan mie ini dengan sebutan mie baso Bandung. Ada pula yang menyebutnya mie yamien. Konon, kata yamien berasal dari nama kota di Cina, Yamien. Namun, informasi ini belum bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya terlebih setelah Cirebon Kuliner telusuri tidak menemukan adanya kota Yamien di negara Cina.


Lalu, ilmu dan keahlian membuat mie yamien yang dimiliki para mahasiswa asal Ciamis ini menyebar ke warga lainnya di kota Ciamis, khususnya warga Desa Kadupandak. Dan pada tahun 1970-an, beberapa warga Kadupandak merantau ke kota Cirebon dan mencari penghasilan dengan berjualan mie yamien dengan ilmu dasar yang mereka dapatkan dari membuat mie baso Bandung yang populer itu.

Saat memasuki kota Cirebon di tahun 1970-an, menurut Pak Edom, di kota Cirebon sudah ada penjual hidangan mie yang serupa dengan mie yamien yang biasa mereka buat. Hidangan mie ini yang mereka sebut dengan mie "Ncek". Nama ini didapat karena yang berjualan adalah warga Cirebon keturunan Cina, yang biasa disebut dengan sebutan "Ncek". Nah, mie Ncek ini juga pernah Cirebon Kuliner ulas dengan judul mie kipit, dan ada juga yang Cirebon Kuliner beri judul mie yamien khas Cirebon. Ini adalah beberapa ulasan mie yamien khas Cirebon:
dan masih ada beberapa lagi ulasan mie yamien khas Cirebon

Namun begitu, mie yamien khas Cirebon, dengan mie yamien khas warga Ciamis ini memiliki cita rasa yang sedikit berbeda. Dimana mie yamien khas Cirebon terasa lebih gurih, sedangkan mie yamien warga Ciamis atau mie baso Bandung terasa lebih manis. Secara penampilan, kurang lebih sama, satu mangkuk mie dengan bumbu kering, dengan topping suwiran daging ayam kering, lengkap dengan kuah dalam mangkok terpisah berisi baso, pangsit basah, tahu, dan beberapa versi komplit berisi isian lainnya seperti baso-tahu, pangsit kering, dan lain-lain.

Sedangkan kata "Warkad" dalam mie yamien Warkad adalah singkatan, yang kepanjangannya adalah "Warga Kadupandak" yang seperti Cirebon Kuliner utarakan adalah nama Desa di kota Ciamis dimana para warganya mendapatkan ilmu membuat mie ini dari keempat mahasiswa yang berkuliah di kota Bandung pada tahun 1960-an, dengan bekerja pada warga Bandung keturunan Cina yang berjualan mie baso. 

Di kota Cirebon, mie yamien nampaknya ada dua versi secara cita rasa, yaitu mie yamien khas kota Cirebon yang banyak berada di wilayah jalan Pandesan, jalan Pekalangan dan sekitarnya, dan mie yamien khas Warkad atau warga desa Kadupandak kota Ciamis. Walaupun tidak jauh berbeda, namun tetap saja masing-masing memiliki identitas di cita rasanya yang khas. Mana yang paling enak? Sesuai selera saja...

Jadi, berdasarkan pemaparan Cirebon Kuliner di atas, kuliner mie dengan segala variannya, cikal bakalnya dibawa oleh warga keturunan Cina, yang kemudian di masing-masing kota di Indonesia berkembang sesuai kondisi daerah masing-masing. Dan salah satu variannya, yaitu mie yamien, atau mie baso Bandung, atau ada juga yang menyebutnya bakmi, dimana ketiga varian ini memiliki presentasi visual yang tidak jauh berbeda.

Mie yamien khas Cirebon, mie baso Bandung, berdasarkan informasi dari Pak Edom, berasal dari ilmu yang didapat dari pedagang mie keturunan Cina, di kota Bandung, yang kemudian diserap oleh warga Ciamis, lebih spesifiknya warga Desa Kadupandak kota Ciamis, yang biasa disingkat "Warkad". Kemudian mie "Warkad" ini menyebar ke kota Cirebon yang sebetulnya sudah memiliki mie yamien khas-nya sendiri yang sebetulnya masih "senada" karena juga diperkenalkan oleh pedagang keturunan Cina juga.

Oiya, sekedar selingan informasi, perbedaan mie ayam dengan mie yamien (atau juga bakmi) adalah:
1. Mie Ayam menggunakan tiopping daging ayam yang berbumbu basah. Mie Yamien menggunakan topping daging ayam yang cenderung kering dan bumbu sederhana.

2. Mie pada Mie Ayam cenderung lebih tebal, sedangkan mie pada Mie Yamien cenderung lebih tipis dan lebar biasanya. Sedangkan bumbunya kurang lebih sama.

3. Mie Ayam tidak hadir dengan kuah terpisah. Sedangkan Mie Yamien hadir dengan kuah dalam mangkok terpisah yang juga berisi bahan lain seperti baso, tahu, dan pangsit. Pada beberapa versi yang lebih komplit, berisi juga pangsit kering, tahu-baso, siomay, dan lain-lain.

Secara teknis, sama-sama mie yang diberi daging ayam, namun secara terperinci, jelas berbeda. Penampilan berbeda, rasa berbeda, sampai gerobak khas yang digunakan pun berbeda. Semoga ulasan ini dapat bermanfaat. Bagi yang memiliki informasi lebih untuk melengkapi artikel ulasan ini, silahkan share di comment ya.

Informasi tambahan lagi, mie yamien "Warkad" di kota Cirebon saat ini yang paling populer adalah mie baso Pak Etom yang berada di jalan Karanggetas. Pak Etom adalah kakak kandung dari Pak Edom, yang berjualan di jalan Tentara Pelajar saat ini (2016). Informasinya, Pak Edom akan pindah lokasi. Beliau ini adalah empat bersaudara, Ekom, Ewon, Etom, dan Edom.

Semoga, kuliner-kuliner tradisional yang sederhana ini tetap dapat bertahan dan lestari sampai kapanpun sehingga bisa terus dinikmati oleh generasi selanjutnya.



Penampilan khas tipikal mie yamien. Di daerah tertentu seperti di beberapa kota di Jawa Tengah, disebut dengan Bakmi.

Cirebon Kuliner bersama Pak Edom, bungsu dari Ekom, Ewon, Etom, dan Edom.

Terimakasih telah mengunjungi www.CirebonKuliner.com. Apabila berkenan, penulis CirebonKuliner.com berharap pembaca bersedia untuk menulis komentar yang positif atau kritik yang membangun, baik untuk kuliner/tempat makan yang diulas, ataupun juga untuk CirebonKuliner.com itu sendiri.