TREN COFFEE SHOP DI CIREBON | PART 2: Kedai-Kedai Kopi di Cirebon


Okei, ini adalah artikel lanjutan dari artikel sebelumnya yaitu "TREN COFFEE SHOP DI CIREBON | PART 1: Sejarah Singkat MInuman Kopi." Setelah dalam PART 1 penulis CirebonKuliner membahas mengenai sejarah singkat minuman kopi, kini penulis akan mengulas mengenai kedai-kedai kopi yang ada di kota Cirebon.

SEBELUM MULAI MELANJUTKAN, PENULIS CIREBONKULINER INGIN BERTERIMAKASIH KEPADA SELURUH NARASUMBER YANG BERPARTISIPASI MEMBERI INFORMASI SEBAGAI SUMBER DASAR PENULISAN ARTIKEL INI. PENULIS JUGA INGIN MENYAMPAIKAN PERMINTAAN MAAF APABILA DALAM ARTIKEL INI TERDAPAT SALAH PENULISAN, ATAU SALAH INFORMASI. UNTUK ITU, APABILA ADA DIANTARA PEMBACA ARTIKEL INI YANG MERASA DIRUGIKAN ATAU MERASA ADA INFORMASI YANG PERLU DILURUSKAN, PENULIS MEMOHON UNTUK SEGERA MENGHUBUNGI PENULIS (crbkuliner@gmail.com / cirebonkuliner@yahoo.com) AGAR KESALAHAN INFORMASI TERSEBUT DAPAT SEGERA DILURUSKAN.

Secara sederhana, di tahun 2015 ini kedai-kedai kopi di kota Cirebon terbagi menjadi 3 skala, yaitu lokal, nasional, dan internasional. Kedai kopi di kota Cirebon dengan taraf internasional di antaranya adalah Starbucks, dan Dunkin Donuts - walaupun brand terakhir ini tidak fokus berjualan pada minuman kopinya. Kemudian ada juga Bangi Kopitiam yang merupakan franchise dari Malaysia.

Pada level nasional, ada merk-merk seperti Excelso, Cuppa Coffee, Coffee Toffee, Lecker, dan J-Co. Kehadiran kedai kopi dengan brand ukuran nasional ini tentunya menambah warna tersendiri di kota Cirebon yang kecil ini. Dan kedai-kedai kopi di kota Cirebon milik warga lokal Cirebon di tahun 2015 ini sudah semakin bertambah, paling tidak, dibandingkan dengan saat tahun 2010-an kemarin, sebut saja, Rockstar, Baraja, Lambada, Vanilla, Roby's, Pinisi, New Star, Juragan, Djenggo, Lunaira, Rumah Kopi, dan My Story. Kabarnya, masih akan bertambah lagi kedai-kedai kopi di kota Cirebon yang akan didirikan oleh putra-putri asli kota Cirebon. Dan dalam artikel ini, penulis Cirebon Kuliner tidak akan membahas coffee shop berskala nasional, apalagi internasional, namun akan lebih mendalam pada local coffee shops milik para putra / putri Cirebon.

Secara singkat, kedai kopi di kota Cirebon, dahulu ada Coffee 85 di jalan Pemuda, yang kini sudah tutup. Kemudian ada Rockstar Kopitiam yang berdiri sejak pertengahan 2010 dengan lokasi awal di Perumnas Cirebon. Kemudian ada Widita, dan Baraja yang berdiri berbarengan di akhir 2010. Dan di sekitar tahun 2011 ada Kopitiam 62 yang terletak di jalan Yos Sudarso. Namun saat penulis Cirebon Kuliner mendatangai lokasi, penulis Cirebon Kuliner mendapatkan informasi bahwa Kopitiam 62 sudah tidak ada. Disebutkan juga bahwa kini berada di daerah Sumber, Kab. Cirebon, namun belum jelas apakah masih Kopitiam 62, ataukah berbeda brand ataukah sama sekali beda industri (bukan kopi). Dulu juga sempat ada Boss Kopi yang berjualan dengan konsep mobile, dan biasa "mangkal" di kawasan jalan Kartini, namun kini sudah lama tidak nampak.

Dan kini, hingga artikel ini ditulis (Januari-Februari 2015), kedai kopi lokal Cirebon yang paling populer hingga awal 2015 ini adalah "Baraja" Coffee - termasuk yang tertua lahir pada akhir tahun 2010 -  dan "Lambada" Cafe & Resto yang berdiri semenjak pertengahan 2012. Dari segi bisnis, nampaknya Baraja dan Lambada adalah "The Big Two" dalam dunia coffee shop  di kota Cirebon saat ini. Beberapa sebelum Baraja, lebih dulu ada "Rockstar" Kopitiam (berdiri sekitar pertengahan 2010) yang di lokasi awal berada di kawasan Perumnas kota Cirebon, kemudian sempat menjadi idola saat berlokasi di jalan Kartini, dan sempat meredup gaungnya setelah outlet di jalan Kartini tutup, dan hanya outlet yang di Cirebon Gourmet (wilayah Kesambi) yang beroperasi. Kini Rockstar siap mendapatkan namanya kembali setelah saat ini kembali menempati lokasi di jalan Kartini. Kemudian di akhir 2013 ada "Vanilla" Cafe & Boutique yang saat artikel ini dibuat, nampaknya sedang struggling untuk dapat terus beroperasi. Di awal 2014, muncul "Roby's" Coffee & Tea yang nampaknya, bersama "My Story" Cafe & Bistro yang hadir di akhir 2014 akan siap ikut menemani Baraja dan Lambada di singgasana kesuksesan dunia coffee shop di kota Cirebon. Soon or later, "The Big Two" akan menjadi "The Big Six" jika Vanilla mampu bertahan, jika Roby's dan My Story mampu bersaing, dan serta jika Rockstar mampu mendapatkan kembali pamornya.

Sedangkan kedai kopi lokal Cirebon lainnya seperti "Pinisi" Coffee, "New Star" Kopitiam, "Juragan" Coffee, Gerobak Kopi "Djenggo", "Lunaira" Coffee, dan "Rumah Kopi", adalah nama-nama yang mencoba "bermain" di sektor bawah dulu. Iya, kedai-kedai kopi "kecil" ini hadir di kota Cirebon mencoba memuaskan para pecinta dan penikmat kopi di kota Cirebon, dengan penampilan yang lebih sederhana, dengan peralatan yang lebih sederhana, juga tentunya dengan harga yang lebih "sederhana" juga, soal rasa, kopi adalah selera bagi setiap penikmatnya. Tentu, kedai-kedai kopi ini juga memiliki penggemarnya masing-masing. Oiya, kecuali Pinisi Coffee dan New Star Kopitiam yang berlokasi di CSB Mall kota Cirebon, mencoba menggaet penikmat kopi yang berkunjung ke CSB Mall.

Ya, kembali ke para pemain besar. Rockstar, Baraja, Lambada, Vanilla, Roby's dan My Story ini memiliki penampilan dan style yang berbeda. "Rockstar" Kopitiam yang sudah ada semenjak pertengahan 2010, pada awalnya berada di Perumnas Cirebon. Satu tuhan kemudian pindah lokasi ke jalan Kartini kota Cirebon, dimana di lokasi ini Rockstar sempat menuai popularitas, namun kemudian tutup karena persoalan sengketa lahan. Sempat tutup, dan hanya outlet yang di Cirebon Gourmet (Kesambi) yang beroperasi, kini di awal 2015 Rockstar Kopitiam kembali beroperasi di lokasi lama, di jln Kartini Cirebon. Jika dari embel-embelnya - kopitiam - Rockstar hadir menawarkan kopi-kopi ala Melayu (yang dibrew tidak menggunakan mesin espresso). Ya, karena dalam bahasa  Melayu, kopitiam berarti warung kopi dalam bahasa Indonesia. Namun, Rockstar juga memiliki kopi-kopi dengan basic espresso yang dibuat dengan mesin espresso standar cafe. Saat kembali hadir di jalan Kartini, Rockstar nampaknya mulai "merangkak" lagi setelah sebelumnya sempat redup. Iya, kini setelah kembali menempati lokasi di jalan Kartini - dengan beberapa penambahan space tempat - dengan penampilan yang juga atrractive di jalan Kartini kota Cirebon, langsung menghadap ke pengguna jalan, Rockstar nampaknya sudah sangat siap untuk kembali menjadi salah satu coffee shop terpopuler di kota Cirebon.

"Baraja" Coffee (berdiri sejak akhir 2010) hadir dengan penampilan yang menurut penulis Cirebon Kuliner, paling attractive. Mengapa? Baraja Coffee tampil seperti cafe-cafe pinggir jalan di kota Paris, Perancis dengan kursi & meja persis di bahu jalan. Berada di tepat di pusat kota Cirebon. Kehadiran Baraja Coffee tentunya menjadi pemandangan yang sangat khas. Selain itu, bagi para penikmat kopi atau pengunjung Baraja, posisi dan konsep seperti ini tentunya memberi atmosfir, atau ambience tersendiri. Soal menu, selain minuman kopi yang dibrew dengan mesin espresso standar cafe tentunya, Baraja juga menawarkan berbagai racikan teh, minuman coklat, dan berbagai pilihan menu makanan yang tidak terlalu berat sebagai teman minum kopi / teh / coklat. Sampai saat ini, Baraja Coffee masih selalu ramai dipadati para penggemar setianya yang ingin menikmati tempat nyaman di Baraja dan macam-macam menunya untuk berbagai keperluan. Ya, Baraja, somehow, selalu memiliki daya tarik bagi masyarakat Cirebon yang mencari cafe untuk nongkrong bersama kawan, atau untuk mengerjakan tugas kantor/kuliah/sekolah, atau sendirian untuk betul-betul menikmati kopi. Satu lagi, hingga saat ini, Baraja masih menjadi satu-satunya coffee shop yang buka 24 jam. Bagi para penikmat kopi yang ingin menikmati espresso atau cappuccino di pagi hari, atau di sore waktu senja, maka Baraja adalah tempat yang sangat sangat tepat.

Tampak Depan BARAJA






Baraja Latte & Pancake Saus Mangga ala BARAJA


"Lambada" Cafe & Resto (berdiri pertengahan 2012), hadir dengan lebih "eksklusif", karena selain lokasinya yang berada di lantai atas dari sebuah ruko tempat berjualan handphone di tengah kota Cirebon, juga bagian dalam dari Lambada Cafe & Resto juga memang didesain dengan konsep - yang menurut penulis Cirebon Kuliner - sangat apik, terlebih untuk ukuran kota Cirebon. Bagi para pengunjung Lambada yang mungkin bukan penikmat kopi, nampaknya Lambada juga memberi kenyamanan lebih, sehingga sampai saat ini Lambada masih menjadi salah satu cafe lokal terbaik di kota Cirebon. Jika saja, Lambada hadir dengan lokasi yang lebih oke lagi, misalnya, dengan lahan parkir yang lebih baik, dan memiliki lantai bawah, penulis Cirebon Kuliner yakin, Lambada akan menjadi lebih great lagi. Terlebih, jika jam operasinya yang apabila dimulai dari pagi hari, karena saat ini Lambada beroperasi setiap hari dari mulai pukul 16:00 hingga sekitar 02:00 dini hari, atau bisa hingga waktu subuh jika ada event tertentu.

Tampak depan LAMBADA





Pancake ala LAMBADA


Cappuccino ala LAMBADA



"Vanilla" Cafe & Boutique, pada awal berdirinya, sebetulnya sempat menjadi salah satu alternatif bagi para "pencari cafe" di kota Cirebon. Selain kopinya, para penggemar Vanilla (terutama para wanita) juga bisa berbelanja pakaian di butik yang berada tepat di sebelah cafe-nya. Namun sayang, saat artikel ini dibuat (Jan 2015), Vanilla nampaknya sedang berada pada kondisi yang tidak prima. Penulis Cirebon Kuliner sangat berharap Vanilla Cafe & Boutique dapat terus bertahan - apapun problematikanya - sehingga Vanilla bisa menjadi kedai kopi lokal andalan kota Cirebon dan menjadi salah satu "The Big" local coffee shop di kota Cirebon.

"Roby's" Coffee & Tea, yang hadir di sekitaran kwartal awal 2014, nongol di kota Cirebon dengan konsep yang secara konvensional, diminati para kawula muda "pencari cafe". Roby's hadir agak minggir dari pusat kota Cirebon, di sebuah ruko 2 lantai, dengan konsep desain yang cukup nyaman. Selain itu, berdasarkan informasi yang penulis Cirebon Kuliner dapatkan langsung dari sang owner, Roby's memiliki visi bisnis yang sangat siap. Sang pemilik langsung mendaftarkan logo dari cafe besutannya ini, dan mematok target untuk mem-franchise-kan cafenya ini dalam beberapa waktu ke depan. Pemilik Roby's cafe juga mengungkapkan bahwa cafe miliknya ini lebih berkonsep American style, dengan salah identitasnya adalah dengan penggunaan berbagai macam flavoured syrup ke dalam berbagai macam minuman kopi dan teh racikannya. Dan nampaknya, hingga sampai artikel ini dibuat, Roby's Coffee & Tea masih bertahan dan diminati para penggemarnya. Iya, bagi para cafe hunter atau penikmati kopi yang ingin suasana dan atmosfer yang lebih tenang jauh dari keramaian kota, dengan harga yang maish make sense, maka Roby's Coffee & Tea adalah jawabannya. Roby's buka dari pukul 10:00 pagi hari hingga pukul 3 dini hari. Mau ngopi pagi atau nongkrong sampe pagi? Silahkan..

Kedai kopi lokal yang belakangan hadir di akhir 2014, awal 2015 di kota Cirebon adalah "My Story" Cafe & Bistro. Bistro?? Iya, konsep bistro yang coba dihadirkan oleh My Story ini tentunya akan semakin meramaikan warna dari dunia kuliner di kota Cirebon, khususnya dunia per-cafe-an dan perkopian di kota Cirebon. Namun sampai saat artikel ini dibuat, penulis Cirebon Kuliner belum berkesempatan mengunjungi langsung My Story. Namun dari namanya, My Story bakal menwarkan suguhan kopi khas hasil brewing mesin espresso, dan dengan konsep bistro, My Story juga nampaknya bakal menghadirkan berbagai menu makanan yang - seharusnya - cukup elegan. Karena bistro - menurut sejarah latar belakanganya - adalah restoran kecil di kota Paris yang menghadirkan menu makanan dengan harga menengah, namun dengan penampilan yang tetap elegan layaknya makanan ala Perancis pada umumnya. Kita tunggu saja, sampai nanti penulis Cirebon Kuliner berkesempatan berkunjung dan membuat ulasannya. Atau... semoga, owner My Story Cafe & Bistro membaca artikel ini dan berbaik hati mengundang penulis Cirebon Kuliner untuk datang berkunjung ke cafe miliknya. Oiya, satu hal yang membuat penulis Cirebon Kuliner cukup salut adalah fakta bahwa My Story didirikan di lokasi yang bukan merupakan jantung kota Cirebon. Keberanian ini bisa menjadi contoh bagi para pebisnis lainnya, terlebih jika sampai My Story Cafe & Bistro menuai sukses dimasa depan.

Oke, sekarang mari bahas kedai-kedai kopi lokal berskala sederhana di kota Cirebon. Juragan Coffee hadir di kantin masjid At-Taqwa kota Cirebon, juga dengan konsep mobile dengan menggunakan mobil, dan biasa "mangkal" di pusat jajanan kakilima yang saat ini lagi ngetren, yaitu di kawasan depan ex-pabrik rokok BAT. Juragan hadir menyajikan minuman kopi dengan mesin espresso standar rumahan, namun tetap cukup untuk membuat kopi enak - sekali lagi, kopi adalah "pakaian" bagi para penikmatnya, enak/tidaknya, tergantung bagaimana style sang pemakai "pakaian" tersebut. Djenggo hadir di kawasan Brigjen Dharsono bypass, Lunaira hadir di kawasan jalan Yos Sudarso (Cangkol) kota Cirebon, sedangkan Rumah Kopi hadir di sekitaran lampu merah Drajad-Kesambi (Jabang Bayi). Mereka semuanya hadir dengan lebih membumi, lebih sederhana, lebih me-masyarakat.

Penulis Cirebon Kuliner yang masih awam soal kopi ini berpikir bahwa nikmatnya secangkir kopi tidak diukur dari murah atau mahalnya alat atau mesin yang digunakan untuk meracik minuman kopi itu. Bagi para penikmatinya yang lebih suka kopi sachet atau kopi instan, maka kopi instanlah yang paling nikmat, dan bisa jadi, minuman kopi "fancy" ala cafe yang dibuat dengan mesin espresso standar cafe, tidak senikmat kopi instan menurut mereka. Semuanya soal preferensi para penikmat kopi. Tidak ada salahnya menyukai kopi instan. Begitu juga yang lebih menyukai sesuatu yang mewah, sah-sah saja.

Secara singkat, penulis Cirebon Kuliner memperhatikan bahwa kehadiran coffee shops di kota Cirebon ini masih dinikmati tempatnya saja, belum kopinya. Mungkin karena sebagian besar masyarakat kota Cirebon sebagai konsumen kedai kopi masih tidak terlalu passionate dengan minuman kopi itu sendiri, dan berpikir kurang lebih "Masa bodoh dengan minuman kopinya seperti apa atau bagaimana, yang pentingnya tempatnya oke, nyaman, apalagi harganya terjangkau." Jadi, iya, sekali lagi, yang lebih dibeli masyarakat selaku pengunjung kedai kopi adalah tempatnya, belum membeli kopinya.


Iya, dari sisi konsumen coffee shop di kota Cirebon, mungkin hanya sekitar 10-15% saja yang memiliki wawasan lebih mengenai kopi, atau yang merupakan penikmat kopi, yang datang ke coffee shop di kota Cirebon yang bertujuan betul-betul murni untuk menikmati satu atau dua cangkir kopi favoritnya. Kebanyakan, masih "masa bodoh dengan kopinya." Dan beberapa konsumen lainnya datang ke coffee shop dengan tujuan yang berbeda-beda pula, ada yang bertemu relasi bisnis, ada yang hangout bersama kawan-kawan, ada yang mengerjakan pekerjaan kantor/kampus/sekolah, dan sekali lagi, masih sangat-sangat minim pengunjung yang datang untuk menikmati kopi dan menikmati ambience di kedai kopi itu. Persoalan ini, akan penulis Cirebon Kuliner bahas lebih dalam pada part 3, yaitu "TREN COFFEE SHOP DI CIREBON | PART 3: Para Konsumen Kedai Kopi di Cirebon."

Kesimpulan dari PART 2 ini adalah, dari segi bisnis, di awal 2015 "Baraja" Coffee dan "Lambada" Cafe & Resto masih menjadi pemimpin di dunia coffee shop di kota Cirebon sebagai "The Big Two". "Rockstar" Kopitiam sudah siap kembali mendapatkan golden age-nya. "Vanilla" Cafe & Boutique terus berjuang untuk menjadi salah satu coffee shop andalan kota Cirebon. "Roby's" Coffee & Tea dan "My Story" Cafe & Bistro siap membayangi kesuksesan "The Big Two."

Sampai jumpa di "TREN COFFEE SHOP DI CIREBON | PART 3: Para Konsumen Coffee Shop di Cirebon."

SEKALI LAGI, APABILA ADA DIANTARA PEMBACA ARTIKEL INI YANG MERASA MEMILIKI INFORMASI YANG PERLU DITAMBAHKAN KE DALAM ARTIKEL INI, ATAU APABILA ADA INFORMASI DALAM ARTIKEL INI YANG PERLU DILURUSKAN, DAN ADA DIANTARA PEMBACA YANG MERUPAKAN PIHAK YANG RELEVAN UNTUK MELURUSKANNYA, PENULIS MOHON UNTUK SEGERA MENGHUBUNGI PENULIS, AGAR KEKELIRUAN INFORMASI DALAM ARTIKEL INI DAPAT SEGERA DILURUSKAN.

TERIMAKASIH KEPADA SELURUH PIHAK YANG SUDAH MENJADI NARASUMBER UNTUK PENULISAN ARTIKEL INI. DAN MOHON MAAF ATAS SEGALA KEKURANGAN/KESALAHAN YANG ADA.

TREN COFFEE SHOP DI CIREBON | PART 1: Sejarah Singkat Minuman Kopi


Kopi, bagi para penikmatnya, minuman ini tentu bisa berarti dan memberi berbagai kenikmatan tersendiri. Walaupun tidak semua orang adalah penikmat kopi, tetap saja, minuman yang satu ini sudah menjadi industri yang besar di dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Terlebih, semenjak mulai adanya tren kedai kopi atau coffee shop di berbagai belahan dunia dari Eropa, hingga ke kota-kota di Indonesia, termasuk akhirnya, ke kota kecil di Jawa Barat, Cirebon.

Bagi masyarakat kota Cirebon yang memperhatikan dunia kuliner di kota Cirebon, tentu ngeh dengan menjamurnya kedai-kedai kopi di beberapa titik di kota Cirebon. Namun, sebelum membahas lebih jauh mengenai tren coffee shop  di kota Cirebon, penulis Cirebon Kuliner ingin sedikit membahas dulu secara singkat mengenai sejarah atau asal-usul minuman berwarna coklat gelap kehitaman ini.

Kopi, atau qahwah dalam bahasa Arab, atau kahveh dalam bahasa Turki, koffie dalam bahasa Belanda, adalah minuman yang dibuat dari ekstraksi biji tanaman kopi. Ada beberapa versi mengenai sejarah awal mulanya lahirnya minuman kopi, namun yang paling banyak "dipakai" adalah bahwa semua berawal dari seorang penggembala kambing asal Etiopia bernama Khalid yang memperhatikan kambing gembalaannya tetap terjaga atau masih enerjik saat matahari terbenam setelah kambing-kambingnya tersebut memakan sejenis buah beri.


Kemudian Khalid pun mencoba mengkonsumsi sendiri buah beri tersebut. Tidak lama, penemuan makan/minuman dari biji kopi ini pun menyebar ke berbagai daerah di Afrika. Yang kemudian menyebar ke Arab, dimana di sini, minuman kopi dibuat dengan cara atau teknik baru yang lebih modern.

Singkat cerita, pada tahun 1615 seorang saudagar dari Venezia / Venice, Italia, membawa biji kopi ke Eropa, dimana ia mendapatkan biji kopi ini dari pedagang asal Turki. Dan kemudian pada tahun 1616 bangsa Belanda membawa biji kopi ke tanah Jawa, yang pada masa itu merupakan daerah jajahannya.

Lalu bagaimana ceritanya minuman kopi yang paling populer di seluruh dunia adalah espresso, dan "turunannya" yaitu caffe latte, cappuccino, americano, macchiato, dan caffe mocha? Secara singkat, penulis Cirebon Kuliner dapat menceritakan bahwa, orang Italia yang pada saat itu juga gandrung meminum kopi, menginginkan minuman kopi yang berbeda, yang lebih strong dan "padat berisi."

Dengan berbagai inovasi, akhirnya pada tahun 1884 di kota Turin atau Torini, Angelo Moriondo mematenkan sebuah mesin penemuannya, yang mana mesin ini berfungsi membuat minuman kopi yang nantinya lebih dikenal dengan mesin espresso - walaupun mesin penemuannya ini belum bisa mem-brew kopi dengan ekspres (espresso dalam bahasa Italia berarti ekspres atau cepat).

Tujuhbelas tahun kemudian, yaitu pada tahun 1901, Luigi Bezzera asal kota Milan membuat berbagai inovasi pada mesin pembuat kopi tersebut. Ia juga mematenkan beberapa di antara inovasi hasil kreasinya. Dan pada tahun 1905, hak paten ini dibeli oleh Desiderio Pavoni (founder perusahaan La Pavoni), dan mulai memproduksi mesin tersebut secara massal.

Di Italia, khususnya di kota besar yang sibuk dan "cepat" seperti Milan, masyarkatnya menikmati kopi dengan cepat atau ekspres, yang mana minuman kopinya ini dibuat dengan ekspres juga dengan menggunakan mesin kopi tadi. Yup, masyarakat kota Milan yang super sibuk menginginkan kopi yang dibuat dengan ekspres, menikmatinya dengan "ekspres" juga, sambil berdiri di depan bar (stand-bar) sambil berbincang-bincang singkat dengan para penikmat espresso lainnya, lalu pergi menuju tempat bekerja. Lahirlah budaya menikmati minuman espresso, yaitu minuman kopi yang dibuat dengan mesin espresso.

Dengan menggunakan mesin espresso, minuman kopi yang dihasilkan adalah minuman kopi dengan kuantitas lebih sedikit, namun lebih konsentrat, "padat", kental, dan penuh cita rasa yang sangat strong. Jadi, espresso bukanlah sejenis biji kopi, melainkan nama minuman kopi yang di-brew dengan menggunakan mesin espresso.

Espresso

Lalu, apa itu cappuccino, caffe latte, americano, macchiato, dan caffe mocha? Oke, caffe latte (caffe = kopi; latte = susu) adalah espresso yang ditambahkan steamed milk (susu yang disteam, dimana proses steaming ini juga menggunakan mesin espresso) ke dalamnya.

Caffe Latte

Cappuccino, memiliki jumlah steamed milk yang lebih sedikit dibanding caffe latte, dan memiliki jumlah milk foam (busa susu hasil men-steam susu) yang lebih melimpah, dimana milk foam ini ditaruh di atas minuman cappuccino. Cappuccino yang klasik biasanya berpenampilan sederhana namun elegan, dengan milk foam di posisi paling atas, dan membentuk ring atau cincin dengan warna coklat kopi di pinggirannya, dan diakhiri dengan menambahkan taburan coklat bubuk di atasnya. Nama cappuccino itu sendiri berasal dari kata biarawan Capuchin yang memakai jubah yang warnanya mirip dengan minuman cappuccino. 

Cappuccino klasik (tradisional)


Cappuccino klasik dengan tambahan coco powder

Macchiato (macchiato = stained = bernoda/bertanda), adalah espresso yang ditambahkan (diberi "noda" atau "tanda") hanya milk foam di atasnya. Ada dua varian, yaitu caffe macchiato, dan latte macchiato. Caffe macchiato adalah yang dijelaskan sebelumnya. Sedangkan latte macchiato adalah sebaliknya, susu yang diberi "noda" kopi espresso.

Caffe Macchiato

Latte Macchiato

Americano adalah espresso yang ditambahkan air panas ke dalamnya. Berawal dari masa perang dunia, saat tentara Amerika menginginkan minuman kopi seperti yang biasa mereka minuman di negaranya (berkuantitas banyak, dan tidak kental), tidak seperti espresso (sedikit, namun padat dan sangat strong). Sehingga, espresso yang ditambahkan air panas (sesuai request dari para tentara Amerika) disebut Americano.

Americano

Dan caffe mocha adalah, espresso, dengan steamed milk, dengan coklat. Berbagai variasi ditambahkan, seperti cream di atasnya, dan berbagai macam sirup dengan macam-macam rasa.

Caffe Mocha

Pada perkembangannya, macam-macam minuman kopi dengan basic espresso ini memiliki berbagai varian dan perbedaan di beberapa negara, tentunya dipengaruhi oleh keahlian atau skill barista, pasar atau permintaan konsumen, dan faktor-faktor lainnya. Budaya meminum kopi juga berbeda. Jika di Italia, mereka lebih suka menikmati espresso secara ekspres di pagi hari, atau tidak meminum cappuccino (dan varian espresso dengan susu) setelah jam 11 siang, maka di luar Italia, tentu tidak sama.

Dan tren coffee shop yang populer di Indonesia (termasuk di kota Cirebon) saat ini, adalah tren coffee shop yang lebih berkiblat kepada coffee shop di Amerika, terutama setelah boomingnya Starbucks, sebuah brand besar asal kota Seattle, Amerika Serikat. Ya, saat ini, masyarakat Indonesia gandrung nongkrong di coffee shop berlama-lama baik sendirian maupun bersama teman-teman.

Oke, ini adalah akhir dari bahasan "TREN COFFEE SHOP DI CIREBON | PART 1: Sejarah Minuman Kopi." Berikutnya, penulis Cirebon Kuliner akan melanjutkan pembahasan mengenai tren coffee shop ini di PART 2, yaitu mengenai kedai-kedai kopi itu sendiri yang ada di kota Cirebon.



SUMBER:
http://id.wikipedia.org/wiki/Kopi
http://en.wikipedia.org/wiki/Espresso

http://en.wikipedia.org/wiki/Cappuccino

Sparkling Kitchen


Sparkling Kitchen adalah satu dari sekian banyak resto yang dimiliki oleh orang lokal Cirebon. Sparkling Kitchen terdapat di Grage Mall dan Grage City Mall. Hadir dengan konsep resto yang cukup menarik pengunjung mall, dan menawarkan berbagai menu seafood.

Yang penulis Cirebon Kuliner kunjungi adalah Sparkling Kitchen di Grage Mall, jalan Tentara Pelajar kota Cirebon. Dengan daya tampung yang cukup besar, Sparkling Kitchen Grage Mall Cirebon ini bisa dijadikan tempat kumpul keluarga atau acara kantor yang cukup memadai. 

Saat berkunjung, penulis Cirebon Kuliner memesan beberapa ragam menu, seperti paket Bento, Chicken Steak, dan Nasi Goreng Sapi Pedas ala Sparkling Kitchen. Soal harga, menurut penulis Cirebon Kuliner termasuk standar mall. Yang pasti, dari segi tempat, cukup nyaman, terlebih dengan banyaknya meja dan tempat duduk sofa untuk para pengunjung.




Sedangkan soal rasa, tergolong lumayan enak. Namun tampaknya masih ada beberapa pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pengelola Sparkling Kitchen, di antaranya adalah segi kebersihan dan pelayanan terhadap konsumen yang nampaknya masih bisa lebih baik lagi. Misalnya, sambutan terhadap konsumen yang nampaknya masih minim, dan asistansi konsumen yang juga kurang maksimal, walaupun tidak semua pramusaji berperforma kurang.

Secara keselurhan, Sparkling Kitchen masih layak dikunjungi. Jika lebih dimaksimalkan lagi, tentu akan menjadi resto pilihan masyarakat kota Cirebon. Bagi masyarakat kota Cirebon yang penasaran, silahkan datang kunjungi Sparkling Kitchen di Grage Mall jalan Tentara Pelajar, atau di Grage City Mall jalan Pegambiran.

Nasi Bento ala Sparkling Kitchen

Chicken Steak ala Sparkling Kitchen

Terimakasih telah mengunjungi www.CirebonKuliner.com. Apabila berkenan, penulis CirebonKuliner.com berharap pembaca bersedia untuk menulis komentar yang positif atau kritik yang membangun, baik untuk kuliner/tempat makan yang diulas, ataupun juga untuk CirebonKuliner.com itu sendiri.