"Vanilla" Cafe & Boutique, pada awal berdirinya, sebetulnya sempat menjadi salah satu alternatif bagi para "pencari cafe" di kota Cirebon. Selain kopinya, para penggemar Vanilla (terutama para wanita) juga bisa berbelanja pakaian di butik yang berada tepat di sebelah cafe-nya. Namun sayang, saat artikel ini dibuat (Jan 2015), Vanilla nampaknya sedang berada pada kondisi yang tidak prima. Penulis Cirebon Kuliner sangat berharap Vanilla Cafe & Boutique dapat terus bertahan - apapun problematikanya - sehingga Vanilla bisa menjadi kedai kopi lokal andalan kota Cirebon dan menjadi salah satu "The Big" local coffee shop di kota Cirebon.
"Roby's" Coffee & Tea, yang hadir di sekitaran kwartal awal 2014, nongol di kota Cirebon dengan konsep yang secara konvensional, diminati para kawula muda "pencari cafe". Roby's hadir agak minggir dari pusat kota Cirebon, di sebuah ruko 2 lantai, dengan konsep desain yang cukup nyaman. Selain itu, berdasarkan informasi yang penulis Cirebon Kuliner dapatkan langsung dari sang owner, Roby's memiliki visi bisnis yang sangat siap. Sang pemilik langsung mendaftarkan logo dari cafe besutannya ini, dan mematok target untuk mem-franchise-kan cafenya ini dalam beberapa waktu ke depan. Pemilik Roby's cafe juga mengungkapkan bahwa cafe miliknya ini lebih berkonsep American style, dengan salah identitasnya adalah dengan penggunaan berbagai macam flavoured syrup ke dalam berbagai macam minuman kopi dan teh racikannya. Dan nampaknya, hingga sampai artikel ini dibuat, Roby's Coffee & Tea masih bertahan dan diminati para penggemarnya. Iya, bagi para cafe hunter atau penikmati kopi yang ingin suasana dan atmosfer yang lebih tenang jauh dari keramaian kota, dengan harga yang maish make sense, maka Roby's Coffee & Tea adalah jawabannya. Roby's buka dari pukul 10:00 pagi hari hingga pukul 3 dini hari. Mau ngopi pagi atau nongkrong sampe pagi? Silahkan..
Kedai kopi lokal yang belakangan hadir di akhir 2014, awal 2015 di kota Cirebon adalah "My Story" Cafe & Bistro. Bistro?? Iya, konsep bistro yang coba dihadirkan oleh My Story ini tentunya akan semakin meramaikan warna dari dunia kuliner di kota Cirebon, khususnya dunia per-cafe-an dan perkopian di kota Cirebon. Namun sampai saat artikel ini dibuat, penulis Cirebon Kuliner belum berkesempatan mengunjungi langsung My Story. Namun dari namanya, My Story bakal menwarkan suguhan kopi khas hasil brewing mesin espresso, dan dengan konsep bistro, My Story juga nampaknya bakal menghadirkan berbagai menu makanan yang - seharusnya - cukup elegan. Karena bistro - menurut sejarah latar belakanganya - adalah restoran kecil di kota Paris yang menghadirkan menu makanan dengan harga menengah, namun dengan penampilan yang tetap elegan layaknya makanan ala Perancis pada umumnya. Kita tunggu saja, sampai nanti penulis Cirebon Kuliner berkesempatan berkunjung dan membuat ulasannya. Atau... semoga, owner My Story Cafe & Bistro membaca artikel ini dan berbaik hati mengundang penulis Cirebon Kuliner untuk datang berkunjung ke cafe miliknya. Oiya, satu hal yang membuat penulis Cirebon Kuliner cukup salut adalah fakta bahwa My Story didirikan di lokasi yang bukan merupakan jantung kota Cirebon. Keberanian ini bisa menjadi contoh bagi para pebisnis lainnya, terlebih jika sampai My Story Cafe & Bistro menuai sukses dimasa depan.
Oke, sekarang mari bahas kedai-kedai kopi lokal berskala sederhana di kota Cirebon. Juragan Coffee hadir di kantin masjid At-Taqwa kota Cirebon, juga dengan konsep mobile dengan menggunakan mobil, dan biasa "mangkal" di pusat jajanan kakilima yang saat ini lagi ngetren, yaitu di kawasan depan ex-pabrik rokok BAT. Juragan hadir menyajikan minuman kopi dengan mesin espresso standar rumahan, namun tetap cukup untuk membuat kopi enak - sekali lagi, kopi adalah "pakaian" bagi para penikmatnya, enak/tidaknya, tergantung bagaimana style sang pemakai "pakaian" tersebut. Djenggo hadir di kawasan Brigjen Dharsono bypass, Lunaira hadir di kawasan jalan Yos Sudarso (Cangkol) kota Cirebon, sedangkan Rumah Kopi hadir di sekitaran lampu merah Drajad-Kesambi (Jabang Bayi). Mereka semuanya hadir dengan lebih membumi, lebih sederhana, lebih me-masyarakat.
Penulis Cirebon Kuliner yang masih awam soal kopi ini berpikir bahwa nikmatnya secangkir kopi tidak diukur dari murah atau mahalnya alat atau mesin yang digunakan untuk meracik minuman kopi itu. Bagi para penikmatinya yang lebih suka kopi sachet atau kopi instan, maka kopi instanlah yang paling nikmat, dan bisa jadi, minuman kopi "fancy" ala cafe yang dibuat dengan mesin espresso standar cafe, tidak senikmat kopi instan menurut mereka. Semuanya soal preferensi para penikmat kopi. Tidak ada salahnya menyukai kopi instan. Begitu juga yang lebih menyukai sesuatu yang mewah, sah-sah saja.
Secara singkat, penulis Cirebon Kuliner memperhatikan bahwa kehadiran coffee shops di kota Cirebon ini masih dinikmati tempatnya saja, belum kopinya. Mungkin karena sebagian besar masyarakat kota Cirebon sebagai konsumen kedai kopi masih tidak terlalu passionate dengan minuman kopi itu sendiri, dan berpikir kurang lebih "Masa bodoh dengan minuman kopinya seperti apa atau bagaimana, yang pentingnya tempatnya oke, nyaman, apalagi harganya terjangkau." Jadi, iya, sekali lagi, yang lebih dibeli masyarakat selaku pengunjung kedai kopi adalah tempatnya, belum membeli kopinya.
Iya, dari sisi konsumen coffee shop di kota Cirebon, mungkin hanya sekitar 10-15% saja yang memiliki wawasan lebih mengenai kopi, atau yang merupakan penikmat kopi, yang datang ke coffee shop di kota Cirebon yang bertujuan betul-betul murni untuk menikmati satu atau dua cangkir kopi favoritnya. Kebanyakan, masih "masa bodoh dengan kopinya." Dan beberapa konsumen lainnya datang ke coffee shop dengan tujuan yang berbeda-beda pula, ada yang bertemu relasi bisnis, ada yang hangout bersama kawan-kawan, ada yang mengerjakan pekerjaan kantor/kampus/sekolah, dan sekali lagi, masih sangat-sangat minim pengunjung yang datang untuk menikmati kopi dan menikmati ambience di kedai kopi itu. Persoalan ini, akan penulis Cirebon Kuliner bahas lebih dalam pada part 3, yaitu "TREN COFFEE SHOP DI CIREBON | PART 3: Para Konsumen Kedai Kopi di Cirebon."
Kesimpulan dari PART 2 ini adalah, dari segi bisnis, di awal 2015 "Baraja" Coffee dan "Lambada" Cafe & Resto masih menjadi pemimpin di dunia coffee shop di kota Cirebon sebagai "The Big Two". "Rockstar" Kopitiam sudah siap kembali mendapatkan golden age-nya. "Vanilla" Cafe & Boutique terus berjuang untuk menjadi salah satu coffee shop andalan kota Cirebon. "Roby's" Coffee & Tea dan "My Story" Cafe & Bistro siap membayangi kesuksesan "The Big Two."
Sampai jumpa di "TREN COFFEE SHOP DI CIREBON | PART 3: Para Konsumen Coffee Shop di Cirebon."
SEKALI LAGI, APABILA ADA DIANTARA PEMBACA ARTIKEL INI YANG MERASA MEMILIKI INFORMASI YANG PERLU DITAMBAHKAN KE DALAM ARTIKEL INI, ATAU APABILA ADA INFORMASI DALAM ARTIKEL INI YANG PERLU DILURUSKAN, DAN ADA DIANTARA PEMBACA YANG MERUPAKAN PIHAK YANG RELEVAN UNTUK MELURUSKANNYA, PENULIS MOHON UNTUK SEGERA MENGHUBUNGI PENULIS, AGAR KEKELIRUAN INFORMASI DALAM ARTIKEL INI DAPAT SEGERA DILURUSKAN.
TERIMAKASIH KEPADA SELURUH PIHAK YANG SUDAH MENJADI NARASUMBER UNTUK PENULISAN ARTIKEL INI. DAN MOHON MAAF ATAS SEGALA KEKURANGAN/KESALAHAN YANG ADA.