TREN COFFEE SHOP DI CIREBON | PART 1: Sejarah Singkat Minuman Kopi


Kopi, bagi para penikmatnya, minuman ini tentu bisa berarti dan memberi berbagai kenikmatan tersendiri. Walaupun tidak semua orang adalah penikmat kopi, tetap saja, minuman yang satu ini sudah menjadi industri yang besar di dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Terlebih, semenjak mulai adanya tren kedai kopi atau coffee shop di berbagai belahan dunia dari Eropa, hingga ke kota-kota di Indonesia, termasuk akhirnya, ke kota kecil di Jawa Barat, Cirebon.

Bagi masyarakat kota Cirebon yang memperhatikan dunia kuliner di kota Cirebon, tentu ngeh dengan menjamurnya kedai-kedai kopi di beberapa titik di kota Cirebon. Namun, sebelum membahas lebih jauh mengenai tren coffee shop  di kota Cirebon, penulis Cirebon Kuliner ingin sedikit membahas dulu secara singkat mengenai sejarah atau asal-usul minuman berwarna coklat gelap kehitaman ini.

Kopi, atau qahwah dalam bahasa Arab, atau kahveh dalam bahasa Turki, koffie dalam bahasa Belanda, adalah minuman yang dibuat dari ekstraksi biji tanaman kopi. Ada beberapa versi mengenai sejarah awal mulanya lahirnya minuman kopi, namun yang paling banyak "dipakai" adalah bahwa semua berawal dari seorang penggembala kambing asal Etiopia bernama Khalid yang memperhatikan kambing gembalaannya tetap terjaga atau masih enerjik saat matahari terbenam setelah kambing-kambingnya tersebut memakan sejenis buah beri.


Kemudian Khalid pun mencoba mengkonsumsi sendiri buah beri tersebut. Tidak lama, penemuan makan/minuman dari biji kopi ini pun menyebar ke berbagai daerah di Afrika. Yang kemudian menyebar ke Arab, dimana di sini, minuman kopi dibuat dengan cara atau teknik baru yang lebih modern.

Singkat cerita, pada tahun 1615 seorang saudagar dari Venezia / Venice, Italia, membawa biji kopi ke Eropa, dimana ia mendapatkan biji kopi ini dari pedagang asal Turki. Dan kemudian pada tahun 1616 bangsa Belanda membawa biji kopi ke tanah Jawa, yang pada masa itu merupakan daerah jajahannya.

Lalu bagaimana ceritanya minuman kopi yang paling populer di seluruh dunia adalah espresso, dan "turunannya" yaitu caffe latte, cappuccino, americano, macchiato, dan caffe mocha? Secara singkat, penulis Cirebon Kuliner dapat menceritakan bahwa, orang Italia yang pada saat itu juga gandrung meminum kopi, menginginkan minuman kopi yang berbeda, yang lebih strong dan "padat berisi."

Dengan berbagai inovasi, akhirnya pada tahun 1884 di kota Turin atau Torini, Angelo Moriondo mematenkan sebuah mesin penemuannya, yang mana mesin ini berfungsi membuat minuman kopi yang nantinya lebih dikenal dengan mesin espresso - walaupun mesin penemuannya ini belum bisa mem-brew kopi dengan ekspres (espresso dalam bahasa Italia berarti ekspres atau cepat).

Tujuhbelas tahun kemudian, yaitu pada tahun 1901, Luigi Bezzera asal kota Milan membuat berbagai inovasi pada mesin pembuat kopi tersebut. Ia juga mematenkan beberapa di antara inovasi hasil kreasinya. Dan pada tahun 1905, hak paten ini dibeli oleh Desiderio Pavoni (founder perusahaan La Pavoni), dan mulai memproduksi mesin tersebut secara massal.

Di Italia, khususnya di kota besar yang sibuk dan "cepat" seperti Milan, masyarkatnya menikmati kopi dengan cepat atau ekspres, yang mana minuman kopinya ini dibuat dengan ekspres juga dengan menggunakan mesin kopi tadi. Yup, masyarakat kota Milan yang super sibuk menginginkan kopi yang dibuat dengan ekspres, menikmatinya dengan "ekspres" juga, sambil berdiri di depan bar (stand-bar) sambil berbincang-bincang singkat dengan para penikmat espresso lainnya, lalu pergi menuju tempat bekerja. Lahirlah budaya menikmati minuman espresso, yaitu minuman kopi yang dibuat dengan mesin espresso.

Dengan menggunakan mesin espresso, minuman kopi yang dihasilkan adalah minuman kopi dengan kuantitas lebih sedikit, namun lebih konsentrat, "padat", kental, dan penuh cita rasa yang sangat strong. Jadi, espresso bukanlah sejenis biji kopi, melainkan nama minuman kopi yang di-brew dengan menggunakan mesin espresso.

Espresso

Lalu, apa itu cappuccino, caffe latte, americano, macchiato, dan caffe mocha? Oke, caffe latte (caffe = kopi; latte = susu) adalah espresso yang ditambahkan steamed milk (susu yang disteam, dimana proses steaming ini juga menggunakan mesin espresso) ke dalamnya.

Caffe Latte

Cappuccino, memiliki jumlah steamed milk yang lebih sedikit dibanding caffe latte, dan memiliki jumlah milk foam (busa susu hasil men-steam susu) yang lebih melimpah, dimana milk foam ini ditaruh di atas minuman cappuccino. Cappuccino yang klasik biasanya berpenampilan sederhana namun elegan, dengan milk foam di posisi paling atas, dan membentuk ring atau cincin dengan warna coklat kopi di pinggirannya, dan diakhiri dengan menambahkan taburan coklat bubuk di atasnya. Nama cappuccino itu sendiri berasal dari kata biarawan Capuchin yang memakai jubah yang warnanya mirip dengan minuman cappuccino. 

Cappuccino klasik (tradisional)


Cappuccino klasik dengan tambahan coco powder

Macchiato (macchiato = stained = bernoda/bertanda), adalah espresso yang ditambahkan (diberi "noda" atau "tanda") hanya milk foam di atasnya. Ada dua varian, yaitu caffe macchiato, dan latte macchiato. Caffe macchiato adalah yang dijelaskan sebelumnya. Sedangkan latte macchiato adalah sebaliknya, susu yang diberi "noda" kopi espresso.

Caffe Macchiato

Latte Macchiato

Americano adalah espresso yang ditambahkan air panas ke dalamnya. Berawal dari masa perang dunia, saat tentara Amerika menginginkan minuman kopi seperti yang biasa mereka minuman di negaranya (berkuantitas banyak, dan tidak kental), tidak seperti espresso (sedikit, namun padat dan sangat strong). Sehingga, espresso yang ditambahkan air panas (sesuai request dari para tentara Amerika) disebut Americano.

Americano

Dan caffe mocha adalah, espresso, dengan steamed milk, dengan coklat. Berbagai variasi ditambahkan, seperti cream di atasnya, dan berbagai macam sirup dengan macam-macam rasa.

Caffe Mocha

Pada perkembangannya, macam-macam minuman kopi dengan basic espresso ini memiliki berbagai varian dan perbedaan di beberapa negara, tentunya dipengaruhi oleh keahlian atau skill barista, pasar atau permintaan konsumen, dan faktor-faktor lainnya. Budaya meminum kopi juga berbeda. Jika di Italia, mereka lebih suka menikmati espresso secara ekspres di pagi hari, atau tidak meminum cappuccino (dan varian espresso dengan susu) setelah jam 11 siang, maka di luar Italia, tentu tidak sama.

Dan tren coffee shop yang populer di Indonesia (termasuk di kota Cirebon) saat ini, adalah tren coffee shop yang lebih berkiblat kepada coffee shop di Amerika, terutama setelah boomingnya Starbucks, sebuah brand besar asal kota Seattle, Amerika Serikat. Ya, saat ini, masyarakat Indonesia gandrung nongkrong di coffee shop berlama-lama baik sendirian maupun bersama teman-teman.

Oke, ini adalah akhir dari bahasan "TREN COFFEE SHOP DI CIREBON | PART 1: Sejarah Minuman Kopi." Berikutnya, penulis Cirebon Kuliner akan melanjutkan pembahasan mengenai tren coffee shop ini di PART 2, yaitu mengenai kedai-kedai kopi itu sendiri yang ada di kota Cirebon.



SUMBER:
http://id.wikipedia.org/wiki/Kopi
http://en.wikipedia.org/wiki/Espresso

http://en.wikipedia.org/wiki/Cappuccino

Sparkling Kitchen


Sparkling Kitchen adalah satu dari sekian banyak resto yang dimiliki oleh orang lokal Cirebon. Sparkling Kitchen terdapat di Grage Mall dan Grage City Mall. Hadir dengan konsep resto yang cukup menarik pengunjung mall, dan menawarkan berbagai menu seafood.

Yang penulis Cirebon Kuliner kunjungi adalah Sparkling Kitchen di Grage Mall, jalan Tentara Pelajar kota Cirebon. Dengan daya tampung yang cukup besar, Sparkling Kitchen Grage Mall Cirebon ini bisa dijadikan tempat kumpul keluarga atau acara kantor yang cukup memadai. 

Saat berkunjung, penulis Cirebon Kuliner memesan beberapa ragam menu, seperti paket Bento, Chicken Steak, dan Nasi Goreng Sapi Pedas ala Sparkling Kitchen. Soal harga, menurut penulis Cirebon Kuliner termasuk standar mall. Yang pasti, dari segi tempat, cukup nyaman, terlebih dengan banyaknya meja dan tempat duduk sofa untuk para pengunjung.




Sedangkan soal rasa, tergolong lumayan enak. Namun tampaknya masih ada beberapa pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pengelola Sparkling Kitchen, di antaranya adalah segi kebersihan dan pelayanan terhadap konsumen yang nampaknya masih bisa lebih baik lagi. Misalnya, sambutan terhadap konsumen yang nampaknya masih minim, dan asistansi konsumen yang juga kurang maksimal, walaupun tidak semua pramusaji berperforma kurang.

Secara keselurhan, Sparkling Kitchen masih layak dikunjungi. Jika lebih dimaksimalkan lagi, tentu akan menjadi resto pilihan masyarakat kota Cirebon. Bagi masyarakat kota Cirebon yang penasaran, silahkan datang kunjungi Sparkling Kitchen di Grage Mall jalan Tentara Pelajar, atau di Grage City Mall jalan Pegambiran.

Nasi Bento ala Sparkling Kitchen

Chicken Steak ala Sparkling Kitchen

Pempek "SELERA" Jln. Kanggraksan

Di kota Cirebon, penjual pempek khas Palembang boleh dibilang tergolong sedikit. Sampai saat ini saja, penjual pempek di kota Cirebon yang masih bisa bertahan hingga sekarang hanya dua, yaitu Pempek 99 di jalan Bahagia, dan Pempek di jalan Lemahwungkuk. Iya, dua warung penjual pempek khas Palembang ini adalah yang tergolong paling lama bertahan di kota Cirebon, dan dua-duanya sudah diulas di web ini.

Kini, satu lagi hadir warung penjual pempek khas Palembang di kota Cirebon, yaitu warung Pempek "Selera" jalan Kanggraksan kota Cirebon. Ya, warung Pempek "Selera" terletak di jalan Kanggraksan kota Cirebon, di seberang Alfamart.




Saat datang berkunjung, penulis Cirebon Kuliner memesan 1 pempek kapal selam seharga Rp 14.000,-, dan 2 pempek lenjer masing-masing seharga Rp 4.000,-. Warung Pempek "Selera" jalan Kanggraksan kota Cirebon ini berlokasi di teras sebuah rumah warga, sehingga lumayan nyaman bagi pengunjung yang ingin menikmati pempek.

Soal rasa, lumayan enak. Jadi, bagi warga masyarakat kota Cirebon penggemar pempek khas Palembang, khususnya yang tinggal di sekitaran jalan Kanggraksan, boleh coba Pempek "Selera" di depan Alfamart Kanggraksan, tidak jauh dari lampu merah Kanggraksan-ByPass.



Nasi Pecel Pincuk "Ibu Sofie"


Bagi masyarakat kota Cirebon yang setiap pagi rutin melewati jalan DR Cipto, lebih spesifik di seberang laboratorium Pramita, pasti sering melihat lapak Nasi Pecel Pincuk "Ibu Sofie" yang menggunakan motor tiga roda. Nasi Pecel Pincuk "Ibu Sofie" jalan DR Cipto kota Cirebon ini menyediakan nasi pecel pincuk khas Madiun, nasi gudeg khas Jogja, dan lontong opor ayam.

Penulis Cirebon Kuliner pun menyempatkan diri untuk datang berkunjung dan mencicipi salah satu menunya, nasi gudeg khas Jogja. Satu porsi nasi gudeg komplit ala "Ibu Sofie" ini berisi opor ayam dan lain-lainnya, hanya Rp 13.000,- saja. Murah meriah, rasanya pun nikmat. Pas sekali untuk sarapan pagi.

Sarapan pagi dengan pemandangan lalu lintas jalan DR Cipto kota Cirebon tentu dapat member nuansa dan inspirasi tersendiri. Jadi, bagi masyarakat kota Cirebon yang mencari alternatif menu sarapan pagi, Nasi Pecel Pincuk "Ibu Sofie" jalan DR Cipto ini bisa dijadikan pilihan. Selamat mencoba!



Empal Gentong "Ibu Baskar"


Daerah origin kuliner khas Cirebon, empal gentong, adalah di daerah desa Battembat, kurang lebih 4 km ke arah Barat dari pusat kota Cirebon. Namun seiring waktu, tentu penjual empal gentong sudah menyebar ke berbagai penjuru kota Cirebon. Salah satunya adalah di kawasan jalan Kanggraksan kota Cirebon, terdapat satu penjual empal gentong yang sudah cukup populer, yaitu Empal Gentong "Ibu Baskar."

Sebelumnya, Empal Gentong "Ibu Baskar" ini adalah milik Bapak Baskar, suami dari Ibu Baskar, namun kini sang Bapak sudah tiada dan kini Ibu Baskarlah yang mengelola setiap harinya. Empal Gentong "Ibu Baskar" terletak di jalan Kanggraksan, di sebuah kios kecil di samping toko percetakan.




Setiap harinya, warung Empal Gentong "Ibu Baskar" ini buka sedari pagi hari, hingga sore hari. Warung Empal Gentong "Ibu Baskar" ini sudah menjadi langganan para konsumen setianya, karena memang rasanya cukup nikmat, dan harganya juga tergolong terjangkau.

Saat berkunjung, penulis Cirebon Kuliner memesan satu porsi empal gentong dengan lontong, 3 krupuk, dan 1 es teh manis. Untuk pesanan ini, harga yang harus dibayar masih di bawah Rp 20.000,-. Bagi penggemar empal gentong khas Cirebon, terutama yang berdomisili di sekitaran jalan Kanggraksan, bisa coba Empal Gentong "Ibu Baskar."


Empal Gentong "Ibu Baskar" jalan Kanggraksan kota Cirebon

Bubur Ayam Tangerang "Mas Jenggot"


Bubur ayam sudah menjadi kuliner yang sangat umum bagi masyarakat Indonesia. Kuliner yang satu ini biasanya disajikan dipagi hari sebagai menu sarapan. Seringkali, bubur juga disarankan oleh para dokter untuk pasiennya yang memerlukan makanan yang mudah dicerna.

Di berbagai kota di Indonesia, bubur bisa disajikan dengan berbagai macam isian. Salah satu yang baru yang ditemukan penulis Cirebon Kuliner temukan di kota Cirebon adalah Bubur Ayam Tangerang "Mas Jenggot" yang mangkal di jalan Tentara Pelajar, di seberang toko kue RUBY.

Entah apa yang menjadi ciri khas bubur ayam dari kota Tangerang, karena pada saat penulis Cirebon Kuliner berkunjung, nampaknya tidak ada yang berbeda atau unik atau khas dari bubur ayam asal kota Tangerang, dibandingkan dengan bubur ayam lainnya. Tidak seperti bubur sop ayam khas Cirebon yang memiliki ciri khas di kuah sop nya.




Dari isiannya, Bubur Ayam Tangerang "Mas Jenggot" ini berisi suwiran daging ayam, dengan kacang. Dari segi rasa, juga tidak berbeda jauh dengan bubur ayam lainnya. Juga ada pilihan sate hati dan ampela bagi yang mau. Tidak siraman kuah khas atau isian apa yang membuat bubur ayam Tangerang ini berbeda.

Namun yang pasti, rasanya enak kok. Dan cocok sekali untuk makan pagi. Harganya pun murah meriah, Rp 6.000,- saja per porsinya. Jadi, bagi masyarakat kota Cirebon yang ingin mencari sarapan, Bubur Ayam Tangerang "Mas Jenggot" jalan Tentara Pelajar kota Cirebon ini bisa dijadikan pilihan.

Istana Mie & Es


Di penghunjung akhir tahun 2014 ini, kota Cirebon semakin mengukuhkan diri sebagai kota kecil yang menarik untuk dijadikan tempat berbisnis, baik bagi pengusaha lokal, maupun dari luar kota. Dan kuliner nampaknya tetap menjadi sektor paling menarik bagi para pemilik dana untuk berinvestasi di kota para Wali ini. Brand baru yang hadir di kota Cirebon di Desember 2014 ini adalah Istana Mie & Es.

Istana Mie & Es adalah merk yang sudah bersistem franchise atau waralaba, yang berasal dari kota Semarang. Dan Istana Mie & Es yang berlokasi di CSB Mall kota Cirebon ini adalah outlet ke 35, setelah beberapa hari sebelumnya juga baru saja membuka outlet baru di kota kembang, Bandung. Dan Istana Mie & Es lantai 2 CSB Mall kota Cirebon ini adalah milik orang Cirebon yang membeli franchise dari kota Semarang.



Istana Mie & Es hadir dengan konsep resto keluarga yang nyaman dengan menu utamanya adalah mie dan macam-macam es. Jika penulis Cirebon Kuliner perhatikan, hidangan mie utama yang ditawarkan Istana Mie & Es ini adalah tergolong mie yamien atau bakmi kalo Jawa bilang. Para pengunjung dapat memilih berbagai macam hidangan mie, dari mulai yang hanya ber-topping ayam, sampai yang berisi komplit seperti pangsit, pangsit goreng, baso, tahu isi, siomay, yang oleh Istana Mie & Es disebut dengan Mie Istana.

Sedangkan dari hidangan esnya, Istana Mie & Es mengandalkan Es Istana yang hadir dengan penampilan yang sangat cantik dan berisi berbagai macam bahan, dari mulai agar-agar, puding, sampai daging buah rambutan dan nanas. Pas sekali dinikmati setelah menghabiskan satu mangkok mie yamien ala Istana Mie & Es.



Selain itu, para pengunjung juga tentunya masih dapat memilih berbagai menu lainnya di Istana Mie & Es, seperti mie kungpao, mie ayam saos tomat, ifumie, nasi goreng, dan macam-macam nasi dengan berbagai lauk pilihan. Soal rasa, tidak perlu ditanya, menurut penulis Cirebon Kuliner, menu-menu yang dihidangkan di Istana Mie & Es ini memang enak sekali. Tidak heran jika dari awal hari pembukaan, Istana Mie & Es di CSB Mall kota Cirebon ini selalu ramai pengunjung.

Penasaran? Silahkan datang dan coba sendiri berbagai menu di Istana Mie & Es. Berlokasi di CSB Mall kota Cirebon, di lantai 2, persis di sebelah XXI dan ACE Hardware. Selamat mencoba! Oiya, untuk kisaran harga berkisar mulai Rp 20.000,-an.


Es Istana


Rujak Gado-Gado khas Cirebon "Parujakan"


Dari namanya, mungkin sedikit membingungkan. Penulis Cirebon Kuliner sendiri agak bingung saat pertama membacanya. Penulis Cirebon Kuliner pun berkesempatan mengunjungi warung Rujak Gado-gado "Parujakan" ini. Warung ini terletak di seberang stasiun Kereta Api Parujakan kota Cirebon. Warung Rujak Gado-gado "Parujakan" ini hampir setiap saat ramai dipadati para pelanggannya, terutama di jam-jam makan siang, dan agak sore.

Saat datang berkunjung, penulis Cirebon Kuliner datang di pagi hari, warung ini belum begitu ramai, tapi sudah ada beberapa pengunjung yang datang. Penulis Cirebon Kuliner memesan satu porsi kuliner yang disebut sebagai "rujak" gado-gado khas Cirebon ini. Melihat dari cara pembuatan dan isiannya, nampaknya sebetulnya sama saja dengan gado-gado uleg (bukan gado-gado kuah).




Namun dari rasanya, ada sedikit perbedaan memang, dibandingkan dengan gado-gado uleg, "rujak" gado-gado ini terasa lebih "cair" atau encer bumbunya. Dari isian, tidak jauh berbeda, ada lontong (opsional), kentang, beberapa macam sayuran, tahu, dan telur, serta krupuk udang sebagai pelengkapnya. Harganya, Rp 14.000,- per porsi. Lumayan tinggi, tapi sebanding kok  dengan rasanya yang memang nikmat.

Bagi penggemar gado-gado, terutama gado-gado uleg, warung Rujak Gado-gado "Parujakan" ini sangat layak dicoba, selai rasanya yang enak, tempatnya juga cukup nyaman, dan pelayanannya pun ramah. Pas sekali dinikmati sebagai makan siang atau saat sore hari.


"Rujak" Gado-Gado Parujakan, Cirebon

"Juragan" Coffee Jln. Kartini (Masjid At-Taqwa)


Kopi, minuman yang disukai sebagian besar masyarakat di seluruh dunia. Bahkan kini, sudah menjadi budaya meminum kopi. Lebih jauh lagi, minuman kopi yang dihadirkan dalam bentuk kedai-kedai kopi yang menarik, semakin menambah kenikmatan dalam meminum kopi. Apapun jenis minuman kopinya, dari kopi tubruk tradisional, sampai kopi dengan dasar espresso yang dibuat dengan menggunakan mesin espresso.

Di kota Cirebon, kedai kopi atau coffee shop sedang sangat menjamur, mulai dari kedai kopi bertaraf internasional yang sudah bersistem franchise atau waralaba, hingga kedai kopi lokal asli kota Cirebon. Yang level lokal Cirebon saja, penulis Cirebon sudah menghitung ada kurang lebih 5 kedai kopi berbentuk "cafe", belum kedai kopi sederhana dengan bentuk warung tenda kaki lima. Dan kini, satu lagi yang baru hadir di tahun 2014 ini, yaitu "Juragan" Coffee.

Pada awalnya, yang penulis Cirebon Kuliner tahu, "Juragan" Coffee hadir dalam konsep mobile atau berkeliling dengan menggunakan mobil. Namuns secara tidak sengaja, penulis Cirebon Kuliner menemukan "Juragan" Coffee juga sudah membuka cafe permanennya di komplek Masjid At-Taqwa, jalan Kartini kota Cirebon.



Cukup unik memang, di pertengahan komplek sebuah masjid besar di kota Cirebon bisa menemukan sebuah kedai kopi kecil berkonsep sederhana. Saat berkunjung, penulis Cirebon Kuliner memeperhatikan bahwa "Juragan" Coffee menggunakan mesin espresso sederhana standar rumahan, bukan standar cafe. Namun begitu, apapun "level" mesin espresso yang digunakan, tidak menjadi pokok bahasan utama. Mungkin, yang terpenting adalah secara keseluruhan kedai kopinya itu sendiri, dan beserta kopi racikannya tentunya.

Penulis Cirebon Kuliner melihat, "Juragan" Coffee di komplek Masjid At-Taqwa jalan Kartini kota Cirebon ini cukup serius menjalanka bisnisnya. Dengan konsep yang sederhana, kedai kopi "Juragan" Coffee ini cukup menarik, baik bagi penikmat kopi biasa, maupun yang sudah sangat menggemari kopi, khususnya minuman kopi dengan dasar espresso dengan menggunakan mesin espresso.

Minuman kopi yang disajikan di "Juragan" Coffee ini diantaranya espresso, cappuccino, caffe latte, americano (tidak ada macchiato yang juga sebenarnya ber-basic dari espresso). "Juragan" Coffee juga menawarkan berbagai pilihan biji kopi dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh, Toraja, Flores, Bali, sampai jenis kopi Luwak.

Saat berkunjung, penulis Cirebon Kuliner memesan hot cappuccino dengan pilihan biji kopi Toraja, dengan cemilan sosis. Satu cangkir cappuccino panas ala "Juragan" Coffee ini dijual dengan harga Rp 11.000,- saja, sedangkan sosisnya Rp 13.000,-, cukup terjangkau. Hasilnya, dengan menggunakan mesin espresso standar rumahan, tentunya berbeda dengan mesin espresso standar cafe, namun, tentu ini soal selera. Karena menurut penulis Cirebon Kuliner, minuman kopi itu bagaikan pakaian. Masing-masing penimun kopi memiliki style atau gayanya masing-masing untuk kopi pilihannya.

Maksudnya? Ada yang menyukai kopi sachet seharga Rp 1.000,- sampai Rp 1.500,-, ada juga yang menykai kopi yang dibuat dengan mesin espresso ber-standar cafe. Tentu, terlalu naif jika kita mengganggap kopi paling enak adalah yang dibuat dengan mesin espresso mahal, sedangkan kopi sachet tidak nikmat sama sekali, karena sekali lagi, ini soal selera terhadap minuman kopi.

Oke, kembali lagi ke "Juragan" Coffee. Menurut penulis Cirebon Kuliner, cappuccino ala "Juragan" Coffee ini cukup nikmat. Sangat layak dijadikan opsi pilihan bagi penikmat kopi yang ingin menikmati kopi cappuccino yang bukan sachet, yang dibuat dengan mesin espresso ala cafe. Jadi, apabila ada pembaca Cirebon Kuliner yang gemar meminum kopi, tentu harus coba racikan kopi dari "Juragan" Coffee di komplek Masjid At-Taqwa jalan Kartini kota Cirebon ini.

Cappuccino ala "Juragan" Coffee

Ayam Goreng Bahagia "Ibu Ramlah" Jln. Yos Sudarso


Bagi masyarakat kota Cirebon, mungkin sudah mengerti maksud dari ayam goreng "Bahagia" dalam artikel ulasan ini. Yup, kawasan jalan Bahagia kota Cirebon sudah sejak lama terkenal dengan rumah makannya yang menyediakan ayam goreng kampung khas Cirebon. Dahulu, ada beberapa rumah makan kecil yang menjual ayam goreng kampung, kini di jalan Bahagia kota Cirebon hanya ada satu saja penjual ayam goreng kampung "Bahagia". Penjual-penjual lainnya kini sudah menyebar ke berbagai wilayah di kota Cirebon, dan sudah pernah diulas penulis Cirebon Kuliner juga tentunya.

Nah, salah satu penjual yang "menyebar" itu adalah Ibu Ramlah yang kini berjualan ayam kampung goreng "Bahagia" khas jalan Bahagia kota Cirebon. Tepatnya, di kawasan jalan Yos Sudarso kota Cirebon, Ibu Ramlah membuka lapak jualan Ayam Goreng Bahagia "Ibu Ramlah." Bagi masyarakat kota Cirebon, ayam kampung goreng khas jalan Bahagia kota Cirebon ini memiliki cita rasa khas yang nikmat.


Penulis Cirebon Kuliner pun menyempatkan diri datang berkunjung ke warung Ayam Goreng Bahagia "Ibu Ramlah" jalan Yos Sudarsono kota Cirebon ini. Di warung tenda kaki lima nan sederhana ini, pembaca Cirebon Kuliner tentu dapat menikmati ayam kampung goreng khas jalan Bahagia kota Cirebon, tentunya dengan harga yang lebih miring.

Penulis Cirebon Kuliner memsesan satu porsi ayam kampung goreng bagian paha, yang dijual dengan harga Rp 14.000,- saja per porsinya. Lengkap dengan nasi dan teh tawar hangat, harga yang harus dibayar masih di bawah Rp 20.000,-, harga yang cukup terjangkau tentunya. Soal rasa, sebetulnya soal selera penikmatnya,. Yang pasti, menurut penulis Cirebon Kuliner, setelah mencicipi langsung, patut dicoba!

Jadi bagi penggemar ayam kampung goreng khas kawasan jalan Bahagia kota Cirebon, ada alternatif warung penjual ayam kampung goreng ini, yaitu warung Ayam Goreng Bahagia "Ibu Ramlah" jalan Yos Sudarsono. Selamat menikmati!


Ayam Kampung Goreng khas kawasan jalan Bahagia ala warung "Ibu Ramlah" jalan Yos Sudarso kota Cirebon

Terimakasih telah mengunjungi www.CirebonKuliner.com. Apabila berkenan, penulis CirebonKuliner.com berharap pembaca bersedia untuk menulis komentar yang positif atau kritik yang membangun, baik untuk kuliner/tempat makan yang diulas, ataupun juga untuk CirebonKuliner.com itu sendiri.