Bebek Goreng "H. Slamet" Jln. Cipto


Sebelumnya, penulis Cirebon Kuliner sudah pernah mengulas mengenai kuliner Bebek Goreng "H. Slamet" yang berlokasi di jalan Kartini kota Cirebon. Dan sekarang telah dibuka Bebek Goreng "H. Slamet" di jalan Cipto nomor 268, atau lebih tepatnya, persis di belokan lampu merah (persimpangan) jalan Cipto dan jalan Sudarsono, sebelah kiri jalan dari arah Grage Mall atau CSB Mall.

Para pembaca Cirebon Kuliner tentu sebagian besar sudah tahu mengenai bagaimana warung makan Bebek Goreng "H. Slamet" terutama kualitas menu-menunya, lebih utama lagi bebek gorengnya yang dihidangkan dengan sambal korek khas Bebek Goreng "H. Slamet." Yup, Bebek Goreng "H. Slamet" ini memang menghadirkan hidangan sederhana namun istimewa, yaitu bebek goreng.

Rasanya penulis Cirebon Kuliner tidak perlu lagi menulis secara berlebihan mengenai bagaimana rasa dan kualitas dari bebek goreng ala Bebek Goreng "H. Slamet" ini. Bebek goreng Bebek Goreng "H. Slamet" ini empuknya pas, tidak terlalu empuk, tidak juga keras. Rasanya pun pas, asinnya, gurihnya, semuanya pas sekali. Ukurannya juga begitu, tidak kecil, tidak juga terlalu besar, pas sekali lagi.






Sedangkan sambal koreknya, bagi yang menyukai tipe sambal seperti ini, tentu bakalan menikmati sekali. Berbeda dengan sambal-sambal di warung pecel lele Lamongan, sambal korek ala Bebek Goreng "H. Slamet" ini tidak menggunakan terlalu banyak rempah-rempah yang biasa dijumpai di sambal khas pecel lele Lamongan. Sehingga menjadikan rasa dari sambal korek ini lebih tajam, lebih berani, dan lebih "lurus" pedasnya.

Dengan harga tidak sampai Rp 30.000,- untuk satu porsi bebek goreng, satu porsi nasi, dan satu minuman dingin, menurut penulis Cirebon Kuliner, ini adalah harga yang sangat murah mengingat kualitas dari bebek goreng dari Bebek Goreng "H. Slamet" ini. Belum lagi kenyamanan tempat makan yang cukup nyaman, juga menambah nilai plus dari warung makan Bebek Goreng "H. Slamet" ini.

Jadi, bagi pembaca Cirebon Kuliner yang belum gemar menikmati bebek goreng namun belum coba bebek goreng dan sambal korek ala Bebek Goreng "H. Slamet" artinya pembaca Cirebon Kuliner wajib coba! Silahkan coba bebek goreng dan sambal korek ala Bebek Goreng "H. Slamet" di jalan Cipto 268 atau bisa juga di jalan Kartini nomor 10 kota Cirebon.


Warung "Bang Jack"


Sebelumnya, penulis Cirebon Kuliner pernah mengulas tentang Warung Sate Kiloan Bang Jack yang berlokasi di Kampung Melati, samping TK Islam Al-Azhar kota Cirebon. Dan kini, penulis berkesempatan untuk berkunjung dan membuat ulasan mengenai 'adik' dari Warung Sate Kiloan Bang Jack, yaitu Warung "Bang Jack" yang berlokasi di jalan Cipto kota Cirebon, di seberang resto Jepang, Puyi Takoyaki.

Dari tampilan luarnya, Warung "Bang Jack" ini memang cukup menarik perhatian para pengguna jalan karena tampak cozy atau nyaman. Selain itu, menu-menu yang ditampilkan di plang besar Warung "Bang Jack" ini juga merupakan menu-menu yang banyak dicari pecinta kuliner, misalnya bebek goreng kremes. Penulis Cirebon Kuliner pun berkesempatan mengunjungi Warung "Bang Jack" ini.

Saat datang berkunjung dan melihat-lihat bagian dalam Warung "Bang Jack" ini, memang cukup nyaman dan bisa membuat pengunjung betah untuk berlama-lama. Ada pilihan meja makan di dalam, ada juga di luar. Menu-menu yang ditawarkan juga tidak neko-neko, di antaranya adalah bebek goreng, ayam goreng kampung, lele goreng ikan gurame, dan masih ada beberapa lagi, tinggal pilih sesuai selera.




Yang penulis Cirebon Kuliner pesan saat berkunjung adalah bebek goreng kremes ala Warung "Bang Jack." Dengan sambal pedas ala Warung "Bang Jack" dan satu porsi nasi, serta satu es teh tawar, harga yang harus dibayar tidak sampai Rp 30.000,-. Ini tentu adalah harga yang sangat murah, mengingat menu yang dipesan adalah bebek goreng, dengan inovasi kremes, plus kenyamanan kelas resto yang tentunya tidak didapat di warung tenda kaki lima. Terlebih, saat ini, rata-rata warung tenda kaki lima mematok harga paling tidak Rp 20.000,-an untuk seporsi bebek goreng dengan nasi. Selisih harga ini tentu wajar dibandingkan dengan kelebihan  yang dimiliki Warung "Bang Jack."

Lepas dari itu semuanya, tentu yang terpenting adalah rasa dari makanannya itu sendiri. Dan bebek goreng kremes dengan sambal pedas yang dipesan penulis saat berkunjung rasanya tergolong lumayan. Bebeknya cukup amoh tidak keras, tidak juga terlalu empuk. Sambalnya juga lumayan enak. Artinya, harga yang dipatok Warung "Bang Jack" tergolong relatif murah. Jadi, bagi pembaca Cirebon Kuliner yang belum pernah mencoba makan di Warung "Bang Jack" silahkan coba datang kunjungi dan icipi makanannya.


Ya Helwa


Membaca namanya mungkin sudah membuat pembaca Cirebon Kuliner mengerutkan dahi karena tidak mengerti apa arti "Ya Helwa"? Apa itu "Ya Helwa"? Penulis Cirebon Kuliner sendiri tidak tahu apa arti dari "Ya Helwa" namun yang pasti, "Ya Helwa" adalah resto di foodcourt CSB Mall yang menghadirkan kuliner-kuliner khas Arab atau Timur Tengah.

Penasaran, dan memang gemar dengan kuliner-kuliner dari Timur Tengah, penulis Cirebon Kuliner akhirnya menyempatkan diri untuk mengunjungi "Ya Helwa" di foodcourt CSB Mall kota Cirebon. Menu-menu yang ada di "Ya Helwa" ini di antaranya yang paling familiar di negara kita adalah nasi Kebuli dan Briyani. Penulis Cirebon Kuliner memesan satu porsi nasi Briyani.

Nasi Briyani menggunakan daging ayam sebagai lauk sumber proteinnya, berbeda dengan nasi Kebuli yang menggunakan daging domba. Saat hidangan Nasi Briyani ala "Ya Helwa" datang, penulis Cirebon Kuliner melihat, dari penampilannya, tidak otentik Timur Tengah, misalnya dari jenis nasi yang dipakai, bukan nasi berbentuk panjang dan kering yang biasa digunakan dalam kuliner-kuliner khas Timur Tengah yang menggunakan nasi. Begitu juga dengan aromanya, bau khas rempah-rempah tajam yang biasa tercium dari kuliner khas Timur Tengah tidak begitu tercium di nasi Briyani ala "Ya Helwa" ini.




Namun begitu, penulis Cirebon Kuliner tetap mencoba menikmati bagaimana rasa dari nasi Briyani ala "Ya Helwa" di CSB Mall kota Cirebon ini. Dan dari rasa, sama dengan aromanya, tidak begitu kental cita rasa khas hidangan Timur Tengah yang biasanya begitu tajam aroma rempahnya. Nasi Briyani ala "Ya Helwa" ini masih lembut di hidung dan juga "nyaman" di lidah.

Bagi penggemar makanan dari Timur Tengah, mungkin bisa jadi kurang puas, namun bagi masyarakat yang tidak begitu mempermasalahkan, ini tidak jadi masalah, karena menurut penulis Cirebon Kuliner, rasa dari nasi Briyani ala "Ya Helwa" ini masih tergolong enak. Oiya, penulis Cirebon Kuliner juga memesan satu porsi teh Arab. Rasa dari teh Arab ala "Ya Helwa" ini lumayan enak. Soal harga, "Ya Helwa" juga tidak mematok harga yang terlalu tinggi. Jadi, bagi pembaca Cirebon Kuliner yang ingin mencoba menyantap hidangan ala Timur Tengah, boleh coba "Ya Helwa" di CSB Mall kota Cirebon.

Roti Bakar "Lawanggada"


Roti memang bukan makanan pokok masyarakat kita Indonesia. Hingga saat ini pun, walaupun roti sudah coba dihadirkan dengan berbagai varian untuk menarik minat masyarakat kita, tetap saja, masyarakat Indonesia merasa belum "makan" apabila belum mengkonsumsi nasi. Namun begitu, masyarakat Indonesia tetap gemar menikmati roti dengan berbagai cara, baik disantap tanpa isian dalam bentuk roti tawar lembaran, hingga dengan isian lengkap layaknya sandwich ala Barat.

Roti juga dijajakan di negara kita dengan berbagai cara, dari mulai dikemas plastikan dan dijajakan di warung-warung pinggir jalan dengan harga tidak lebih dari Rp 3.000,- hingga dijual di restoran-restoran mewah, juga ada yang berkeliling dengan sepeda bermuatan. Salah satu yang paling populer dan banyakditemui di negara kita adalah roti yang dijual di pinggir jalan dengan presentasi roti bakar.

Iya, di berbagai kota di negara Indonesia, dengan mudahnya kita dapat menemui penjual roti bakar dengan isian macam-macam seperti keju, susu, selai kacang, stroberi, nanas, atau coklat. Di Cirebon sendiri, penjual roti bakar semacam ini ada di beberapa sudut kota Cirebon yang terkenal, di antaranya adalah penjual roti bakar yang setiap malam buka lapak di kawasan jalan Lawanggada.

Sesuai lokasinya, penulis Cirebon Kuliner menamakan roti bakar ini dengan nama Roti Bakar "Lawanggada." Jalan Lawanggada sendiri memang merupakan salah satu pusat berbagai kuliner di kota Cirebon, dan biasa ramai sedari sore hingga malam hari. Dan Roti Bakar "Lawanggada" merupakan yang rutin mangkal di jalan Lawanggada.





Saat penulis Cirebon Kuliner berkunjung, penulis memesan roti bakar dengan isian kesukaan penulis, keju susu. Roti bakar keju susu ini berharga hanya Rp 11.000,- saja. Walaupun tidak begitu mengenyangkan seperti nasi, dan mungkin lebih cocok sebagai teman minum kopi atau teh dimalam hari bersama teman-teman atau tetangga, roti bakar semacam ini memang selalu menjadi idola untuk cemilan berat di malam hari.

Di antara pembaca Cirebon Kuliner, tentu ada juga yang gemar menikmati roti bakar pinggir jalan seperti ini, bukan? Dan rasa dari Roti Bakar "Lawanggada" ini memang tergolong enak, menteganya tidak terlalu berlebihan, susu kentalnya pun pas, kejunya pun pas, tidak kurang tidak lebih. Mungkin ini yang membuat Roti Bakar "Lawanggada" dapat bertahan hingga sekarang walaupun kuliner yang dijajakan adalah kuliner sederhana. Silahkan mencoba.

Gado-gado Uleg "Barokah/Ibu Nia" (Tentara Pelajar)


Masyarakat Cirebon yang gemar makan gado-gado tentu tidak asing dengan Gado-gado "Barokah" atau "Bu Nia" atau yang lebih populer dengan sebutan Gado-gado "Tentara Pelajar" karena letaknya yang berada di jalan Tentara Pelajar kota Cirebon. Dulu, Gado-gado "Tentara Pelajar" ini berlokasi di depan toko kue "Ruby," namun setelah toko kue "Ruby" direnovasi, kini Gado-gado "Tentara Pelajar" terletak di seberang toko kue "Ruby."

Kini berlokasi sama dengan Docang "Pak Kumis." Iya, di lokasi atau lapak yang persis sama, di pagi hari digunakan oleh Docang "Pak Kumis" dan di siang hari hingga sore digunakan oleh Gado-gado "Tentara Pelajar." Gado-gado "Tentara Pelajar" ini memang sangat populer hingga kini. Berbagai kalangan di kota Cirebon selalu ramai memesan gado-gado di sini untuk makan siang.

Penulis Cirebon Kuliner pun menyempatkan diri untuk datang berkunjung dan mencicipi " Gado-gado "Tentara Pelajar." Dengan harga Rp 8.000,- per porsi dan rasa yang lumayan, " Gado-gado "Tentara Pelajar" ini tentu selalu ramai dikunjungi para pelanggan setianya. Walaupun ada beberapa penjual gado-gado lainnya di Cirebon yang juga populer memiliki kelebihan lain seperti tempat makan yang lebih nyaman, " Gado-gado "Tentara Pelajar" masih dapat bertahan hingga kini.




Pisang "Kremes" Kesambi "Mba Widjie"


Baru-baru ini penulis Cirebon Kuliner menulis artikel ulasan tentang Pisang "Kremes" Kesambi, dan ini satu lapak baru dari Pisang "Kremes" Kesambi, yang berlokasi persis di pojok tikungan jalan Pecilon dari arah jalan Cipto, dekat dengan restoran Jepang "Puyi Takoyaki." Pisang "Kremes" Kesambi memang salah satu usaha kuliner jajanan ringan yang mampu bertahan hingga sekarang.

Lapak pertama adalah yang di Kesambi, dan setiap hari Minggu buka lapak di komplek Stadion Bima yang memang ramai dikunjungi masyarkat Cirebon yang ingin berolahraga atau jalan-jalan pagi sambil berburu kuliner dan barang-barang lainnya, karena setiap hari Minggu di komplek Stadion Bima memang ramai orang berjualan, dari mulai kuliner hingga pakaian.

Pisang "Kremes" Kesambi lapak Pecilon adalah lapak terbaru dari Pisang "Kremes" Kesambi dengan pemilik lain bernama "Mba Widjie" yang tentu masih relasi dari pemilik utama atau founder dari Pisang "Kremes" Kesambi. Rupanya, sedikit demi sedikit, Pisang "Kremes" Kesambi mulai merambah sistem franchsie atau waralaba.





Iya, Pisang "Kremes" Kesambi ini tergolong yang cukup bersabar dan tidak terburu-buru dalam menerapkan sistem franchise dalam usaha kulinernya, mungkin karena sang founder tidak mau tergersa-gesa dengan sistem yang belum terlalu matang. Walaupun begitu, Pisang "Kremes" Kesambi ini memang tergolong laris manis di Cirebon.

Jadi, bagi pembaca Cirebon Kuliner dan masyarakat Cirebon pada umumnya, yang belum pernah mencoba pisang goreng dengan kremesan yang guring kriuk-kriuk, silahkan coba Pisang "Kremes" Kesambi terdekat, bisa di Kesambing, samping Superindo, atau setiap hari Minggu di komplek Stadion Bima, atau di lapak tikungan jalan Pecilon. Murah kok, hanya Rp 1.500,- satunya.

Ayam Bakar & Goreng "Joko Wow"


Para pebisnis kuliner di kota Cirebon kini semakin kreatif dalam bermain di dunia kuliner. Dari mulai pemilihan nama, sampai ke menu kuliner yang ditawarkan. Termasuk warung makan yang diulas penulis Cirebon Kuliner kali ini, Ayam Bakar & Goreng "Joko Wow." Dari namanya, para pengguna jalan yang melewati Ayam Bakar & Goreng "Joko Wow" ini tentu tertarik dengan namanya yang mirip dengan Gubernur Jakarta terbaru saat ini, Bpk. Jokowi.

Mungkin Bpk. Jokowi yang telah menginsipirasi pemilik warung makan Ayam Bakar & Goreng "Joko Wow" ini. Ayam Bakar & Goreng "Joko Wow" ini berlokasi di jalan Pekalangan kota Cirebon. Penulis Cirebon Kuliner menyempatkan diri untuk datang berkunjung dan mencari tahu apa saja menu yang ditawarkan warung makan Ayam Bakar & Goreng "Joko Wow" ini.

Dari daftar menu yang ada, warung Ayam Bakar & Goreng "Joko Wow" ini mencoba menawarkan menu-menu yang umum seperti ayam bakar, ayam goreng, ati ampela, tahu tempe, sayur asem, juga ada es sarang burung walet, dan juga pilihan nasi liwet. Namun nasi liwetnya bukan seperti nasi liwet tutug oncom ala Sunda, melainkan lebih mirip nasi uduk.

Penulis Cirebon Kuliner memesan satu porsi nasi liwet dengan paha ayam bakar. Untuk nasi porsi ayam bakar lengkap dengan lalab dan sambal, serta satu es teh manis, penulis Cirebon Kuliner hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 13.000,- saja. Harga yang murah menurut penulis Cirebon Kuliner. Murah, dengan pertimbangan rasa ayam bakar yang enak dan ada sedikit cita rasa yang unik dan berbeda dari ayam bakar biasa, dagingnya juga empuk, sambalnya pun enak, tempat makan yang cukup bersih dan nyaman.





Menurut penulis Cirebon Kuliner, Ayam Bakar & Goreng "Joko Wow" ini layak dijadikan pilihan bagi masyarakat kota Cirebon yang ingin menikmati santap siang atau malam dengan ayam bakar bercitarasa lezat dan tempat makan yang nyaman, namun tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam karena harga menu-menu di Ayam Bakar & Goreng "Joko Wow" ini memang murah. Jadi, silahkan datang kunjungi dan icipi masakan Ayam Bakar & Goreng "Joko Wow" di jalan Pekalangan kota Cirebon.

Sate & Sop Kuda "Bang Teddy"


Sepertinya, ini kuliner baru di kota Cirebon, sate dan sop kuda. "Bang Teddy" nama penjualnya, lokasinya di jalan Cipto, tepatnya di depan SMAN 2 kota Cirebon. Warung Sate & Sop Kuda "Bang Teddy" ini biasa mangkal di depan SMAN 2 kota Cirebon dari sore hingga malam hari, dibantu istrinya, Bang Teddy menjajakan sate da sop kuda kepada masyarakat Cirebon.

Menurut penelitian, daging kuda memang beberapa kelebihan dibanding daging ayam atau sapi. Namun, yang paling menonjol adalah mungkin khasiat dari daging kuda, terutama bagian alat vitalnya, atau biasa disebut "torpedo." Iya, daging kuda dan juga "torpedo"-nya dipercaya memiliki berbagai khasiat. Terutama, bagian "torpedo"-nya yang dipercaya ampuh membantu berbagai masalah kejantanan, seperti impotensi, ejakulasi dini, dan masalah ereksi.

Percaya atau tidak, penulis Cirebon Kuliner bertujuan semata memberikan informasi mengenai kuliner dari hewan kuda ini. Saat penulis Cirebon Kuliner berkunjung, penulis memesan 5 tusuk sate kuda dengan dua porsi lontong, semuanya ini seharga Rp 12.000,-. Relatif lebih tinggi memang harganya dibanding sate ayam maupun sate kambing.





Saat mencicipi rasanya, dari aromanya tentu berbeda dari sate ayam, apalagi sate kambing. Sate daging kuda beraroma lebih lembut dan khas. Sedangkan rasanya, sedikit lebih alot (keras) dibanding daging sapi, dan seratnya terasa lebih tebal dan lebih banyak. Selebihnya, dan secara keseluruhan, sate kuda ini enak. Dihidangkan dengan bumbu kacang dan irisan tomat, sate kuda ini terasa menyegarkan dimalam hari.

Bagi, yang belum pernah mencoba sate dan sop kuda, silahkan datang ke warung Sate dan Sop Kuda "Bang Teddy" di jalan Cipto, depan SMAN 2 kota Cirebon. Bagi kaum adam yang ingin mencoba khasiat dari "torpedo" kuda, juga kini tersedia di warung Sate & Sop Kuda "Bang Teddy."

Pisang "Kremes" Kesambi


Sebetulnya, penulis Cirebon Kuliner pernah mengulas Pisang "Kremes" yang sama, hanya saja, dulu yang dibahas adalah yang berlokasi di Komplek Stadion Bima yang biasa ramai padat di hari Minggu pagi. Dan walaupun masih penjual yang sama, penulis Cirebon Kuliner tetap berniat membahas dengan tujuan memberi informasi kepada seluruh masyarkat Cirebon dan seluruh pembaca Cirebon Kuliner.

Iya, Pisang "Kremes" khas Pontianak di kota Cirebon yang pertama kali adalah justru yang berlokasi di Kesambi, tepatnya di pinggir jalan, kaki lima di samping Supermarket baru, Superindo Kesambi. Pisang "Kremes" ini menawarkan kuliner ringan untuk kudapan atau cemilan, yaitu pisang goreng dengan inovasi tambahan kremes pada adonan luarnya, sehingga menambah rasa dan sensasi ketika kita menikmatinya.

Kuliner semacam ini memang tengah digandrunngi masyarakat kita, dan tentu dijadikan peluang para pebisnis kuliner yang ingin mencob peruntungan di bisnis ini. Namun begitu, yang penulis Cirebon Kuliner perhatikan, tentu tidak semua pebisnis pisang goreng modern semacam ini bisa bertahan. Dan Pisang "Kremes" di Kesambi kota Cirebon ini adalah salah satu yang hingga artikel ini dibuat masih dapat bertahan.

Hal ini sedikit banyak tentu dapat menggambarkan bagaimana respon masyarakat terhadap pisang goreng kreasi dari Pisang "Kremes" Kesambi kota Cirebon ini. Menurut penulis Cirebon Kuliner sendiri, rasa dari Pisang "Kremes" Kesambi ini memang tergolong enak, renyah, manisnya pas, cocok sekali untuk dijadikan cemilan. Terlebih, harganya yang murah, Rp 1.500,- saja per piece pisang goreng kremes.




Mungkin, salah satu trik yang membuat Pisang "Kremes" Kesambi ini dapat bertahan adalah kesabaran dari sang pemilik. Sang pemilik yang hingga sekarang masih ulet menjaga lapak jualannya, baik yang di Kesambi maupun di Bima ini memang tergolong sabar dan tekun. Tidak terburu-buru membuka sistem franchise atau waralaba seperti yang saat ini sedang digandrunngi. Karena toh pada akhirnya jika tidak matang betul, justru akan menghancurkan bisnis itu sendiri.

Terbukti, dengan keuletan dan kesabarannya, Pisang "Kremes" Kesambi masih sanggup bertahan hingga saat ini, walaupun yang ditawarkan sangatlah sederhana, hanya pisang goreng dengan inovasi kremesan. Itupun tanpa neko-neko tambahan keju, coklat, atau rasa-rasa lainnya. Mungkin hal ini dapat dijadikan pertimbangan bagi para pebisnis lainnya.

Melalui artikel ini, penulis Cirebon Kuliner tidak ada maksud memberi pelajaran kepada para pebisnis kuliner. Apa yang penulis Cirebon Kuliner tulis hanyalah berupa pemikiran sederhana penulis dari hasil perhatian dan analisa penulis terhadap dunia kuliner di kota Cirebon.

Mie Yamien "Kipit" Jln. Pandesan


Sebelumnya, penulis Cirebon Kuliner pernah membahas kuliner yang sama, mie yamien "kipit" namun dengan penjual yang berbeda, di lokasi yang berbeda pula. Bagi pembaca Cirebon Kuliner yang masih heran dengan istilah "kipit," ijinkan penulis Cirebon Kuliner menjelaskan secara singkat. Di kota Cirebon, kuliner mie sangat digemari, terlihat dari banyaknya penjual kuliner mie dengan berbagai varian, dari mulai mie baso, mie ayam, hingga mie yamien.

Nah.. mie yamien sendiri di kota Cirebon ada banyak yang populer, dan memiliki penggemarnya masing-masing. Dari mulai mie yamien yang dijajakan di rumah makan, hingga gerobak dorongan di pinggira jalan, termasuk salah satunya mie yamien "kipit" ini. Sebetulnya, ini istilah yang mungkin diciptakan penulis Cirebon Kuliner sendiri. "Kipit" sebetulnya berasal dari istilah untuk menggambarkan si penjual mie yamien yang sedang memasak mie dengan mengibas-ngibaskan kipas tradisional guna menjaga agar bara api sebagai sumber panasnya tetap menyala.

Bara api ini tentu harus dijaga agar tetap menyala sebagaimana mestinya. Para penjual mie yamien "kipit" ini menggunakan kubut atau kipas tangan tradisional dari anyaman bambu untuk menghasilkan angin guna menjaga nyala bara api. Dan kipit adalah kata untuk menggambarkan si penjual ketika sedag mengibas-ngibaskan kubut-nya ketika memasak mie-nya, "kipitt.. kipitt.. kipitt......"





Di kota Cirebon, penjual mie yamien kipit yang populer ada di beberapa titik, dan semuanya sudah pernah diulas penulis Cirebon Kuliner, yaitu mie yamien kipit yang berlokasi di jalan Kebon Cai, dan di jalan Pekalangan Tengah. Saling berdekatan memang, termasuk yang sedang dibahas penulis Cirebon Kuliner saat ini, Mie Yamien "Kipit" Jalan Pandesan. Memang, kawasan tiga jalan ini termasuk kawasan yang banyak teradapat penjual mie yamien kipit, dan ketiga-tiganya memilikipelanggan sendiri-sendiri.

Rasanya, menurut penulis Cirebon Kuliner, sederhana, tradisional, tidak neko-neko, namun justru hal inilah yang membuatnya lezat. Ditambah lagi harganya yang murah, hanya Rp 11.000,- saja dengan satu buah teh dalam kemasan botol. Tidak heran jika mie yamien kipit selalu ramai diserbu para pelanggannya walapun hanyalah mie yamien gerobak dorong tanpa kursi dan meja makan yang nyaman. Penasaran? Silahkan coba mie yamien kipit di kota Cirebon.

Terimakasih telah mengunjungi www.CirebonKuliner.com. Apabila berkenan, penulis CirebonKuliner.com berharap pembaca bersedia untuk menulis komentar yang positif atau kritik yang membangun, baik untuk kuliner/tempat makan yang diulas, ataupun juga untuk CirebonKuliner.com itu sendiri.